Perjalanan ke Negeri Orang yang Tidak Mengenakan Pakaian

Jejak Liudu ji jing no. 52 tentang adat, kebijaksanaan, dan cara seorang Bodhisattva menyesuaikan diri tanpa kehilangan nilai.

Bunbun
Daftar Isi

Halo, aku Bunbun. Ada satu kisah dalam Liudu ji jing yang membuatku berhenti cukup lama. Bukan karena ada mukjizat besar, monster, atau istana megah. Justru karena kisahnya terasa sangat dekat dengan kehidupan sehari-hari: dua orang pergi ke negeri asing, lalu bertengkar soal satu pertanyaan sederhana—kalau kita masuk ke tempat dengan adat yang berbeda, apakah kita harus tetap mempertahankan kebiasaan kita sendiri, atau menyesuaikan diri?

Kisah ini dikenal sebagai Zhi Luoguo jing 之裸國經, “Sutra Perjalanan ke Negeri Orang Telanjang”, dan tercatat sebagai kisah no. 52 dalam Liudu ji jing 六度集經. Dalam katalog kanon Buddhis Tionghoa, Liudu ji jing tercatat sebagai T no. 152 dan secara tradisional dikaitkan dengan Kang Senghui pada masa Wu abad ke-3.

Dua Saudara Menuju Negeri yang Asing

Cerita dimulai dengan dua orang yang disebut sebagai kakak dan adik. Keduanya membawa barang dagangan menuju sebuah negeri yang adatnya sangat berbeda dari tempat asal mereka. Teks menggambarkan negeri itu sebagai tempat yang tidak mengenal Buddha, Dharma, maupun komunitas śramaṇa.

Sang adik segera menyadari persoalannya. Bila ingin berdagang dan diterima di sana, mereka harus memahami kebiasaan setempat. Menurutnya, seorang yang bijaksana perlu mampu menyembunyikan keunggulan dirinya, bersikap rendah hati, dan menyesuaikan diri dengan keadaan.

Sang kakak tidak setuju. Baginya, tata krama dan aturan yang diwarisi tidak boleh ditinggalkan. Ia menganggap mengikuti kebiasaan negeri itu sebagai tindakan yang merendahkan diri.

Di sinilah aku mulai merasa kisah ini bukan sebenarnya tentang pakaian. Ia sedang bertanya: apakah mempertahankan bentuk selalu sama dengan mempertahankan nilai?

Catatan Bunbun

Ketika Adat Setempat Terasa Aneh

Menurut teks, penduduk negeri itu memiliki perayaan pada malam tertentu. Mereka mengoleskan minyak pada kepala, melukis tubuh dengan tanah putih, mengenakan hiasan dari tulang, membenturkan batu sebagai bunyi-bunyian, lalu laki-laki dan perempuan bergandengan tangan sambil bernyanyi dan menari.

Sang adik memilih mengikuti tata cara itu. Ia tidak digambarkan kehilangan tujuan atau keyakinannya. Ia hanya menyesuaikan perilaku luarnya agar tidak menghina masyarakat yang sedang ia datangi.

Hasilnya mengejutkan. Penduduk menerima dirinya dengan baik. Raja negeri itu menghormatinya sebagai tamu, membeli barang dagangannya, bahkan memberikan imbalan besar.

Sang Kakak Memilih Jalan Sebaliknya

Setelah itu sang kakak masuk ke negeri tersebut. Namun ia tetap membawa cara pandangnya sendiri dengan keras. Sikapnya membuat masyarakat tersinggung. Raja menjadi marah, barang dagangannya dirampas, dan ia mendapat hukuman.

Sang adik kemudian memohon agar kakaknya dibebaskan. Keduanya akhirnya pulang bersama. Tetapi ketika mereka meninggalkan negeri itu, masyarakat mengantar sang adik dengan rasa hormat, sedangkan sang kakak justru mendapat celaan.

Ironisnya, sang kakak tidak menjadikan pengalaman itu sebagai bahan introspeksi. Ia malah marah kepada adiknya dan menuduhnya sebagai penyebab perbedaan perlakuan tersebut.

Bodhisattva yang Tidak Membalas

Pada akhir kisah, sang adik bersumpah bahwa dalam kehidupan-kehidupan berikutnya ia akan tetap menolong kakaknya, sekalipun kakaknya terus memperlakukannya dengan buruk.

Buddha kemudian menjelaskan kepada para bhikkhu bahwa sang adik adalah dirinya sendiri pada kehidupan lampau, sedangkan sang kakak adalah Devadatta. Teks menempatkan cerita ini sebagai contoh praktik kesabaran—kṣānti pāramitā, kesempurnaan kesabaran.

Bukan Sekadar Cerita tentang “Negeri Telanjang”

Kalau dibaca sekilas, judulnya memang mudah membuat kita terpancing membayangkan sebuah negeri eksotis. Tetapi penelitian modern justru membuat kisah ini semakin menarik. Sebuah studi tahun 2025 oleh Janine Nicol menelaah kisah no. 52 ini secara khusus dan berpendapat bahwa teks tersebut kemungkinan besar bukan sekadar terjemahan lurus dari sebuah kisah India, melainkan dapat saja disusun atau dibentuk secara kuat di Tiongkok pada negara Wu sekitar pertengahan hingga akhir abad ke-3.

Argumennya berkaitan dengan bahasa, ungkapan, dan berbagai rujukan budaya Tionghoa yang muncul dalam cerita. Karena itu, lebih aman mengatakan bahwa Liudu ji jing secara tradisional dikaitkan dengan Kang Senghui, tetapi proses pembentukan teksnya tampaknya lebih kompleks daripada gambaran sederhana “naskah India diterjemahkan ke bahasa Tionghoa”.

Ini penting bagi aku. Sebab kisah ini menunjukkan bagaimana Buddhisme ketika masuk ke Tiongkok tidak hidup di ruang kosong. Cerita, istilah, dan cara penyampaiannya berjumpa dengan kebudayaan setempat.

Menyesuaikan Diri Bukan Berarti Kehilangan Prinsip

Bagian yang paling kuat bagiku adalah perbedaan antara bentuk luar dan nilai batin. Sang adik bersedia mengikuti adat yang baginya asing. Tetapi ia tidak menjadi orang lain. Ia tidak meninggalkan kasih sayang, kesabaran, atau tujuan hidupnya.

Sebaliknya, sang kakak mempertahankan bentuk dan aturan, tetapi kehilangan sesuatu yang lebih mendasar: kemampuan memahami orang lain.

Kadang kita terlalu sibuk mempertahankan cara kita sendiri sampai lupa bahwa kebijaksanaan juga berarti mengetahui kapan harus menyesuaikan langkah.

Yang Bunbun Catat

Yang Bunbun Catat ✎

Aku jadi teringat bahwa hidup sebenarnya penuh dengan “negeri asing”. Masuk ke keluarga orang lain, lingkungan kerja baru, kota baru, bahkan berbicara dengan generasi yang berbeda—semuanya membawa kebiasaan yang tidak selalu sama dengan kebiasaan kita.

Menyesuaikan diri bukan berarti semua nilai harus dibuang. Tetapi mungkin ada saatnya kita perlu bertanya: ini sungguh prinsip, atau cuma kebiasaan yang selama ini aku anggap sebagai satu-satunya cara yang benar?

Sang Bodhisattva dalam cerita ini tidak menang karena paling keras mempertahankan bentuk. Ia justru berhasil karena mampu memahami keadaan, menjaga niatnya, dan tetap menolong orang yang bahkan berkali-kali menyakitinya.

Mungkin di situlah latihan yang sesungguhnya: bukan sekadar mampu hidup bersama orang yang mirip dengan kita, tetapi tetap menjaga hati ketika berhadapan dengan dunia yang sangat berbeda.

Bunbun menulis jurnal perjalanan ditemani kucing exotic shorthair dan peta

Referensi & Bacaan Lanjutan

Jejak bacaan: Daftar berikut membantu pembaca menelusuri sumber, terjemahan, dan bacaan lanjutan yang berkaitan dengan kisah ini.

Bunbun menunjukkan buku referensi bersama kucing krem oranye
Bunbun dan kucing menemani memilih bacaan
🐾

Apa yang sedang kamu rasakan?

Pilih perasaanmu dan temukan cerita yang mungkin bisa menemani.

Bacaan ini hadir sebagai teman dan inspirasi, bukan pengganti bantuan profesional.

Bagikan cerita ini Kalau terasa bermanfaat, kirimkan ke teman.
WA f @

Tombol ↗ membuka menu berbagi HP—Instagram, TikTok, DM, Messenger, dan aplikasi lain akan muncul bila didukung perangkat.

Share This Article