Ringkasan Cerita
Alur Cerita dalam 3 Adegan
Gambaran singkat sebelum mengikuti kisah selengkapnya.

Pembuka
Ubbarī kehilangan Raja Brahmadatta dan terus kembali ke tempat kremasinya. Bagaimana melepaskan seseorang yang dicintai tanpa merasa sedang mengkhianati kenangan tentangnya?

Perjalanan
Kesedihannya membuat hidup berhenti pada satu kehilangan sampai seorang pertapa membantunya melihat bahwa kematian dan perpisahan telah terjadi berulang kali dalam perjalanan yang jauh lebih panjang.

Jawaban
Pemahaman tentang ketidakkekalan perlahan mengubah cara Ubbarī memegang dukanya. Petavatthu tidak menyuruhnya melupakan, tetapi menunjukkan bahwa cinta tidak harus dipertahankan dengan terus tinggal di tempat yang sama bersama kesedihan.
Daftar Isi
Dari Ubbarīpetavatthu, Petavatthu 2.13
Halo, aku Bunbun.
Ada jenis penderitaan yang tidak membutuhkan monster. Tidak membutuhkan api. Tidak membutuhkan makhluk mengerikan.
Kadang penderitaan hanya membutuhkan satu kursi kosong di rumah.
Orang yang biasanya duduk di sana sudah tidak ada. Tetapi setiap kali kita melihat kursi itu, pikiran masih berharap ia akan kembali.
Kisah nomor 18 kita adalah tentang seorang perempuan bernama Ubbarī. Dan penderitaannya bermula ketika orang yang sangat dicintainya meninggal.
Raja Brahmadatta Meninggal
Dahulu di negeri Pañcāla hidup seorang raja bernama Brahmadatta. Ia adalah suami Ubbarī.
Hari-hari berlalu. Kemudian tibalah sesuatu yang tidak dapat dihentikan oleh kekuasaan seorang raja. Brahmadatta meninggal.
Bagi kerajaan, seorang raja telah wafat. Tetapi bagi Ubbarī, yang hilang bukan sekadar seorang raja. Yang hilang adalah suaminya.
Jenazah Brahmadatta dibawa ke tempat kremasi. Wewangian dipersembahkan. Api akhirnya padam. Orang-orang pulang.
Tetapi Ubbarī belum bisa pulang dari kesedihannya.

“Brahmadatta… Brahmadatta…”
Ubbarī pergi ke tempat jenazah suaminya dikremasi. Di sana ia menangis. Ia memanggil nama suaminya.
“Brahmadatta…”
Tetapi tentu tidak ada jawaban. Ia memanggil lagi. “Brahmadatta…”
Orang yang dipanggilnya tidak akan keluar dari tempat kremasi. Ubbarī mengetahuinya. Tetapi mengetahui sesuatu dengan pikiran ternyata tidak selalu berarti hati mampu menerimanya.
Ia terus meratap. Teks menggambarkan seorang istri yang datang ke tempat kremasi karena belum mampu melepaskan suaminya.

Pertapa Itu Bertanya
Lalu suatu hari datanglah seorang isi—seorang pertapa bijaksana.
Sang pertapa melihat tempat kremasi yang masih dipenuhi aroma persembahan. Ia juga melihat seorang perempuan menangis.
Ia bertanya kepada orang-orang yang berada di sana: “Tempat kremasi siapakah ini?” Dan: “Siapakah perempuan yang terus menangisi suaminya?”
Orang-orang menjawab bahwa tempat itu adalah tempat kremasi Raja Brahmadatta. Perempuan yang menangis adalah istrinya, Ubbarī. Ia menangisi suaminya yang telah pergi jauh.

“Brahmadatta yang Mana?”
Pertapa itu kemudian mengatakan sesuatu yang pasti terdengar sangat aneh.
Sang pertapa berkata bahwa di tempat itu telah dikremasi 86.000 orang bernama Brahmadatta.
Lalu ia bertanya kepada Ubbarī: Dari semua Brahmadatta itu, yang mana yang sedang engkau tangisi?
Kalau aku berada di belakang Ubbarī saat itu, mungkin aku juga akan menoleh. Hah? Delapan puluh enam ribu?
Tetapi Ubbarī tahu siapa yang ia maksud. Ia menjelaskan bahwa Brahmadatta yang ia tangisi adalah raja, putra Cūḷani, penguasa Pañcāla. Dialah suaminya. Dialah orang yang memenuhi keinginannya. Brahmadatta itulah yang ia cintai.

“Mereka Semua Pernah Menjadi Suamimu”
Pertapa itu mengatakan bahwa semua Brahmadatta tersebut pernah menjadi raja. Mereka pun disebut sebagai putra Cūḷani dan penguasa Pañcāla. Dan kemudian: Ubbarī pernah menjadi permaisuri mereka.
Bukan hanya Brahmadatta yang terakhir. Dalam perjalanan kelahiran kembali yang sangat panjang, hubungan yang sekarang terasa satu-satunya ternyata telah muncul berulang kali.
Ubbarī kemudian bertanya: apakah selama perjalanan panjang itu ia selalu terlahir sebagai perempuan?
Pertapa menjawab: tidak. Ia pernah menjadi perempuan. Pernah menjadi laki-laki. Bahkan pernah mengalami kelahiran sebagai binatang. Awal perjalanan panjang itu tidak dapat terlihat.
Bayangkan Ubbarī berdiri di sana. Beberapa saat sebelumnya seluruh dunianya seolah hanya terdiri dari: aku dan Brahmadatta. Sekarang pandangannya tiba-tiba dibuka ke sesuatu yang jauh lebih luas: saṃsāra.

Kesedihan yang Seperti Api
Kemudian Ubbarī menggambarkan apa yang baru saja terjadi di dalam dirinya.
Sebelumnya hatinya seperti terbakar. Kesedihannya terhadap kematian suaminya digambarkan seperti api yang semakin berkobar ketika dituangi minyak.
Tetapi setelah mendengar penjelasan sang pertapa, api itu seolah disiram air.
Ia juga menggunakan gambaran lain. Kesedihan seperti anak panah yang tertancap di dalam hati. Dan kata-kata sang pertapa telah mencabut anak panah itu.
Ubbarī mengatakan bahwa sekarang dirinya menjadi tenang. Ia tidak lagi menangis. Ia tidak lagi meratap.
Yang berubah bukan masa lalu. Brahmadatta tetap meninggal. Tempat kremasi tetap berada di sana. Yang berubah adalah cara Ubbarī memandang kehilangan itu.

Ubbarī Tidak Kembali ke Kehidupan Lamanya
Cerita ternyata belum selesai.
Setelah mendengar kata-kata pertapa, Ubbarī mengambil mangkuk dan jubah. Ia meninggalkan kehidupan rumah tangga.
Kemudian ia mengembangkan mettā—cinta kasih. Teks menceritakan bahwa Ubbarī berkelana dari desa ke desa dan kota ke kota. Perjalanannya akhirnya sampai di sebuah tempat bernama Uruvelā.
Di sanalah kehidupannya berakhir. Karena pengembangan mettā tersebut, kisah mengatakan bahwa setelah meninggal Ubbarī terlahir kembali di alam Brahmā.
Perempuan yang dahulu berdiri menangis di tempat kremasi akhirnya melanjutkan perjalanan. Bukan dengan melupakan Brahmadatta. Tetapi dengan tidak lagi tinggal di dalam kesedihannya.

Melepaskan Bukan Berarti Tidak Mencintai
Bagian ini membuatku berhenti agak lama. Karena kalau kisah Ubbarī dibaca terlalu cepat, kita bisa mendapatkan kesan yang kurang tepat: “Kalau seseorang meninggal, jangan menangis.”
Aku rasa bukan itu yang menarik dari kisah ini. Ubbarī mencintai suaminya. Kehilangan seseorang yang kita cintai memang menyakitkan.
Yang diperlihatkan cerita adalah sesuatu yang sedikit berbeda. Ada cinta. Dan ada keinginan agar kenyataan tidak berubah. Keduanya sering bercampur.
Kita berkata: “Aku mencintainya.” Tetapi di baliknya mungkin juga ada: “Karena itu ia seharusnya tetap bersamaku.”
Masalahnya, kehidupan tidak pernah membuat janji seperti itu.

86.000 Brahmadatta
Angka 86.000 mungkin terasa luar biasa. Tetapi justru karena berlebihan bagi pengalaman sehari-hari kita, gambarnya menjadi kuat.
Pertapa seperti menarik kamera sangat jauh ke belakang. Ubbarī tadinya hanya melihat satu kehidupan. Satu pernikahan. Satu kematian. Satu tempat kremasi.
Lalu kamera ditarik mundur—dan yang terlihat adalah perjalanan saṃsāra yang panjang sekali. Pertemuan. Perpisahan. Pertemuan lagi. Perpisahan lagi.
Dalam kerangka Buddhis, hubungan kita sangat berharga. Tetapi tidak ada peran yang permanen.

Yang Bunbun Catat
Ada satu kalimat yang ingin kusimpan dari kisah Ubbarī. Bukan tentang 86.000 raja. Bukan pula tentang alam Brahmā. Tetapi tentang anak panah.
Kadang setelah kehilangan seseorang, peristiwa kehilangannya memang sudah terjadi sekali. Tetapi pikiran mengulangnya. Besok diingat lagi. Lusa diputar lagi. “Seandainya waktu itu…” “Seandainya dia masih ada…” “Seandainya aku sempat mengatakan…”
Seolah anak panah yang sudah menancap terus kita tekan lebih dalam.
Aku tidak berpikir kita harus buru-buru mencabutnya. Kesedihan manusia tidak bekerja seperti tombol. Tetapi mungkin suatu hari kita bisa memegangnya perlahan.
Dan menyadari: orang yang kita cintai tidak harus dilupakan agar kita bisa melanjutkan hidup.

Kita boleh menyimpan kasihnya. Kita boleh menyimpan kenangannya. Yang perlahan-lahan dilepaskan adalah tuntutan kepada kehidupan: “Semua harus tetap seperti dulu.”
Ubbarī akhirnya meninggalkan tempat kremasi. Mungkin suatu hari, dalam bentuk kita masing-masing, kita juga harus belajar pulang.
Referensi & Bacaan Lanjutan
Sumber primer: Petavatthupāḷi, Ubbarivagga, Ubbarīpetavatthu (Pv 2.13 / kisah ke-25), syair 367–385.
Syair kanonik memuat kematian Brahmadatta, ratapan Ubbarī, kedatangan pertapa, 86.000 Brahmadatta, percakapan mengenai kelahiran berulang, padamnya kesedihan Ubbarī, pelepasannya dari kehidupan rumah tangga, pengembangan mettā, dan kelahirannya di alam Brahmā.
Catatan sumber: komentar Petavatthu memberikan latar yang lebih panjang mengenai Brahmadatta dan Ubbarī. Detail komentar perlu dibedakan dari apa yang secara eksplisit terdapat dalam syair kanonik.

Apa yang sedang kamu rasakan?
Pilih perasaanmu dan temukan cerita yang mungkin bisa menemani.
Bacaan ini hadir sebagai teman dan inspirasi, bukan pengganti bantuan profesional.

