Perempuan yang Tinggal di Istana Permata, tetapi Tetap Kesepian

Dari Rathakārapetavatthu: kemegahan tidak selalu menghapus kesepian, dan setiap buah yang kita inginkan membutuhkan sebab yang kita tanam sendiri.

Bunbun

Ringkasan Cerita

Alur Cerita dalam 3 Adegan

Gambaran singkat sebelum mengikuti kisah selengkapnya.

Pembuka

Seorang perempuan tinggal di istana permata, dikelilingi kolam teratai, taman, dan kemewahan. Namun di tengah semua kenikmatan itu ia tetap hidup sendirian. Bagaimana hasil baik dan penderitaan bisa hadir bersamaan?

Perjalanan

Perempuan itu menghanyutkan mangga ke sungai hingga seorang pemuda menemukannya dan mengikuti jejak buah tersebut. Setelah tiba di istana, ia ingin tinggal bersamanya, tetapi diberi jawaban bahwa keinginan saja belum cukup.

Jawaban

Pemuda itu pulang, melakukan kebajikan, dan dalam penutup kisah akhirnya terlahir bersama perempuan tersebut. Cerita juga menunjukkan hasil yang bercampur pada sang perempuan: kemegahan dari kebajikan, tetapi keadaan peta dan kesendirian dari sebab lain yang tidak dirinci.

Daftar Isi

Dari Rathakārapetavatthu, Petavatthu 3.3 / Pv 28

Halo, aku Bunbun.

Kalau mendengar kata peta, biasanya aku membayangkan makhluk kelaparan, tubuh kurus, berkeliaran mencari makanan atau air. Tetapi perempuan dalam cerita ini berbeda.

Ia tinggal di istana yang berkilauan. Tubuhnya indah seperti emas. Di sekelilingnya ada kolam teratai, pasir keemasan, taman yang indah, dan angsa-angsa yang berenang di air jernih.

Kalau hanya melihat tempat tinggalnya, mungkin kita akan berkata: “Penderitaan di mana?” Masalahnya sederhana. Di seluruh kemegahan itu… ia sendirian.

Dahulu, pada Masa Buddha Kassapa

Menurut komentar Petavatthu, perempuan ini hidup pada masa Buddha Kassapa. Ia bukan seseorang yang sepanjang hidup hanya melakukan keburukan. Justru disebutkan bahwa ia melakukan berbagai kebajikan.

Salah satu yang paling penting adalah memberikan tempat tinggal yang indah kepada komunitas para bhikkhu. Itu adalah perbuatan baik.

Bunbun menyaksikan perempuan Rathakāra pada kehidupan lampau mempersembahkan tempat tinggal kepada komunitas bhikkhu

Tetapi kehidupannya ternyata tidak hanya berisi satu jenis perbuatan. Komentar mengatakan bahwa ia juga melakukan perbuatan buruk lain, meskipun syair kanonik Rathakāra sendiri tidak merinci perbuatan buruk tersebut.

Setelah meninggal, hasilnya menjadi sesuatu yang sangat tidak biasa. Ia terlahir sebagai vimānapetī—peta yang memiliki kediaman atau istana luar biasa—di kawasan Himalaya dekat Danau Rathakāra.

Sebuah Istana Muncul untuknya

Akibat kebajikan yang pernah dilakukannya, ia tidak muncul di tempat tandus. Sebuah kediaman menakjubkan tersedia baginya.

Dalam syair, seorang pemuda kelak menggambarkannya sebagai istana bercahaya dengan tiang-tiang permata veḷuriya, penuh keindahan dan kemegahan. Perempuan itu sendiri mempunyai warna tubuh seperti emas.

Di sekelilingnya terdapat kolam-kolam penuh teratai putih. Dasar dan tepian kolam tampak seperti pasir emas. Tidak berlumpur. Tidak kotor. Angsa-angsa berenang sambil mengeluarkan suara indah. Ada taman. Ada perahu. Ada tempat tidur yang indah.

Semua yang biasanya kita bayangkan sebagai kehidupan menyenangkan seolah tersedia di sana. Tetapi ada satu hal yang tidak tersedia. Teman hidup.

Bunbun melihat perempuan Rathakāra sendirian di istana indah dekat danau Himalaya

Istana yang Terlalu Sepi

Perempuan itu tinggal tanpa seorang lelaki. Dan setelah waktu berlalu, timbul keinginan untuk mendapatkan teman.

Menurut komentar, perempuan itu melemparkan buah-buah mangga ke sungai. Air akan membawa buah itu pergi. Mungkin seseorang di dunia manusia akan menemukan mangga tersebut, penasaran dari mana datangnya, lalu mengikuti sungai sampai ke tempat perempuan itu tinggal.

Kalau Bunbun berada di sana mungkin aku sudah berdiri di tepi sungai sambil berkata: “Ini peta atau sedang mancing jodoh pakai mangga?” 😅 Tetapi strateginya berhasil.

Bunbun menyaksikan perempuan Rathakāra menghanyutkan buah mangga ke sungai

Seorang Pemuda Menemukan Mangga

Di Benares, seorang pemuda melihat sebuah mangga di tepi Sungai Gangga. Buah itu membuatnya penasaran. Ia ingin mengetahui dari mana asalnya. Maka ia mengikuti jejaknya.

Perjalanan itu akhirnya membawanya semakin jauh hingga sampai ke tempat kediaman perempuan tersebut.

Bunbun menyaksikan seorang pemuda dari Benares menemukan mangga misterius di sungai

Bayangkan apa yang dilihat pemuda itu. Ia datang mungkin karena sebuah buah mangga. Kemudian di hadapannya berdiri sebuah dunia yang rasanya bukan lagi dunia manusia: istana permata, kolam teratai, pasir seperti emas, angsa, taman, dan di tengah semuanya seorang perempuan bercahaya.

Bunbun dan pemuda tiba di Danau Rathakāra dan melihat istana permata serta perempuan misterius

“Mengapa Kamu Sendirian?”

Pemuda itu terpukau. Syair-syair Rathakārapetavatthu sebagian besar justru berisi deskripsi kekagumannya terhadap perempuan dan kediamannya.

Ia melihat perempuan itu berada di istana yang terang dan indah seperti bulan purnama. Tubuhnya berwarna keemasan. Penampilannya menakjubkan. Tetapi kemudian ia menyadari sesuatu. Perempuan secantik itu berada di tempat semegah itu… sendirian.

Pemuda itu kemudian menyatakan keinginannya. Ia ingin tinggal dan menikmati kehidupan di tempat tersebut bersama perempuan itu.

“Belum Bisa.”

Ia tidak langsung mengatakan: “Ya, tinggallah di sini.” Sebaliknya, ia menyuruh pemuda tersebut melakukan perbuatan yang buahnya memungkinkan ia berada di tempat itu.

Pikirannya harus diarahkan pada tujuan tersebut. Setelah melakukan kebajikan yang sesuai, barulah ia dapat memperoleh kehidupan bersama perempuan itu.

Dengan kata lain: keinginan saja tidak cukup. Pemuda itu tidak bisa sekadar datang lalu menetap. Ada kondisi yang harus ia bangun sendiri.

Bunbun menyaksikan perempuan Rathakāra menjelaskan kepada pemuda bahwa ia harus membangun sebab bagi hasil yang diinginkannya

Pemuda Itu Pulang

Dan bagian ini menurutku menarik. Ia benar-benar kembali ke dunia manusia. Ia tidak memaksa perempuan tersebut. Ia tidak mencoba mencari jalan pintas untuk tinggal di istana.

Menurut komentar, setelah pulang ia merenungkan apa yang telah didengarnya. Kemudian ia mulai melakukan perbuatan-perbuatan baik.

Kita tidak diberi daftar panjang mengenai apa saja yang dilakukannya. Mungkin justru itu tidak terlalu penting bagi cerita. Yang penting adalah: sebelumnya ia hanya menginginkan hasil. Sekarang ia mulai membangun sebabnya.

Bunbun membantu ketika pemuda Rathakāra kembali ke dunia manusia dan mulai melakukan berbagai kebajikan

Bertahun-tahun Kemudian

Pemuda itu terus menjalani kehidupannya. Pada waktunya, hidupnya berakhir.

Dan menurut penutup Rathakārapetavatthu, setelah meninggal ia terlahir bersama perempuan tersebut. Keinginannya akhirnya tercapai.

Bukan karena ia berhasil menemukan jalan rahasia menuju Himalaya. Bukan karena mangganya mempunyai kekuatan ajaib. Tetapi dalam kerangka cerita ini, karena ia melakukan perbuatan yang menghasilkan kondisi bagi kelahiran tersebut.

Bunbun menyaksikan pemuda bertemu kembali dengan perempuan Rathakāra setelah terlahir dalam keadaan yang sesuai

Jadi, Mengapa Perempuan Itu Disebut Peta?

Ini bagian yang menurutku perlu kita jelaskan kepada pembaca. Karena kalau hanya melihat gambarnya nanti—perempuan cantik, istana permata, taman, kolam teratai—orang mungkin bertanya: “Ini peta apanya?”

Rathakāra memperlihatkan bahwa gambaran peta dalam kumpulan ini tidak selalu identik dengan makhluk kurus yang kelaparan.

Komentar menggambarkannya sebagai vimānapetī: makhluk yang mengalami hasil berbeda dari perbuatan-perbuatan masa lalunya. Ada kenikmatan. Tetapi ada juga kekurangan.

Ia memperoleh kemegahan yang dikaitkan dengan kebajikannya, sementara keadaan kelahirannya sebagai peta dikaitkan dengan perbuatan buruk lainnya.

Dan di sini ada satu catatan penting: teks kanonik tidak menjelaskan secara rinci apa perbuatan buruk perempuan tersebut. Jadi aku tidak mau mengarang dosa tertentu hanya supaya ceritanya terasa lebih lengkap. Kalau teks tidak mengatakan, ya kita bilang: kita tidak tahu.

Satu Orang, Banyak Perbuatan

Kita sering ingin melihat seseorang dengan sangat sederhana: orang baik, orang jahat, dermawan, kikir. Padahal kehidupan seseorang tidak sesederhana satu label.

Perempuan Rathakāra pernah melakukan kebajikan. Ia juga melakukan sesuatu yang tidak baik. Dalam dunia moral Petavatthu, perbuatan-perbuatan itu tidak saling menghapus begitu saja seperti angka: +1 lalu -1 = 0.

Cerita justru menggambarkan hasil yang bercampur. Ada istana. Ada kecantikan. Ada kemewahan. Tetapi juga ada keadaan sebagai peta dan kesendirian.

Kita Tidak Bisa Memesan Hasil Tanpa Membuat Sebab

Lalu ada si pemuda. Ia melihat sesuatu yang menyenangkan lalu berkata kira-kira: “Aku mau ini.” Perempuan itu menjawab: buat dulu sebab yang memungkinkanmu berada di sini.

Kita ingin tubuh sehat. Kita ingin hubungan baik. Kita ingin pekerjaan berhasil. Kita ingin pikiran tenang. Kita ingin banyak hal. Tetapi sering kali kita jauh lebih tertarik kepada hasil daripada sebab yang harus dilakukan setiap hari.

Pemuda Rathakāra setidaknya melakukan sesuatu yang cukup sulit: ia pulang. Ia menunda apa yang diinginkannya. Kemudian mulai mengerjakan sebabnya.

Bunbun menulis Catatan Bunbun tentang menanam sebab sebelum mengharapkan buah
Bunbun dan kucing

Yang Bunbun Catat

Awalnya aku kira bagian paling menarik dari cerita ini adalah istana permatanya. Ternyata bukan. Mangga juga lucu. Bayangkan saja sebuah mangga hanyut sangat jauh dan akhirnya membawa seorang lelaki bertemu perempuan misterius di Himalaya.

Tetapi yang tertinggal di kepalaku justru satu kalimat sederhana: kalau menginginkan buah, jangan lupa menanam sebabnya.

Dan perempuan di Danau Rathakāra mengingatkanku pada sesuatu yang lain. Satu perbuatan baik tidak otomatis membuat seluruh hidup kita baik. Satu kesalahan juga tidak harus menjadi satu-satunya identitas kita.

Kita adalah makhluk yang terus melakukan pilihan. Hari ini bisa pelit. Besok bisa belajar memberi. Hari ini bisa berkata kasar. Besok masih bisa meminta maaf.

Mungkin karena itu selama kita masih hidup, bagian paling penting dari cerita belum selesai ditulis. Masih ada perbuatan berikutnya.

Catatan Bunbun

Referensi & Bacaan Lanjutan

Sumber primer: Petavatthupāḷi, Cūḷavagga, Rathakārapetavatthu (Pv 3.3 / Pv 28), syair 438–445. Syair menggambarkan istana, kecantikan perempuan, kolam teratai, pertemuannya dengan pemuda, serta nasihat agar pemuda melakukan kamma yang memungkinkan ia memperoleh kebersamaan dengannya.

Sumber komentar: Paramatthadīpanī, komentar Petavatthu. Latar tentang kehidupannya pada masa Buddha Kassapa, pemberian tempat tinggal kepada Saṅgha, kelahiran sebagai vimānapetī dekat Danau Rathakāra, mangga yang dihanyutkan, dan perjalanan pemuda dari Benares berasal dari lapisan komentar.

Catatan editorial: perbuatan buruk perempuan tersebut tidak ditentukan secara spesifik karena sumber yang digunakan hanya menyebut adanya perbuatan buruk lain tanpa menjelaskannya.

Bunbun dan kucing menemani memilih bacaan
🐾

Apa yang sedang kamu rasakan?

Pilih perasaanmu dan temukan cerita yang mungkin bisa menemani.

Bacaan ini hadir sebagai teman dan inspirasi, bukan pengganti bantuan profesional.

Bagikan cerita ini Kalau terasa bermanfaat, kirimkan ke teman.
WA f @

Tombol ↗ membuka menu berbagi HP—Instagram, TikTok, DM, Messenger, dan aplikasi lain akan muncul bila didukung perangkat.

Share This Article