Daftar Isi
Halo, aku Bunbun.
Ada jenis keadaan yang mungkin membuat kita merasa paling tidak berdaya: ketika kita tahu kita tidak bersalah, tetapi semua yang dilihat orang lain justru tampak membuktikan sebaliknya.
Kisah yang kutemukan dalam Za Bao Zang Jing (《雜寶藏經》) ini bercerita tentang seorang arhat bernama Liyue (離越), yang sering dihubungkan dengan nama Revata dalam penyebutan modern. Ceritanya singkat, tetapi bagian tengahnya membuatku cukup lama berhenti membaca.

Seekor Sapi yang Hilang
Di negeri Jibin, Liyue tinggal di pegunungan dan menjalani kehidupan seorang pertapa. Suatu hari, seseorang kehilangan seekor sapi.
Pemiliknya mengikuti jejak hewan itu sampai ke tempat Liyue berada.
Pada saat itulah keadaan menjadi sangat aneh.
Liyue sedang merebus tumbuhan untuk mewarnai jubahnya. Tetapi menurut kisah dalam kitab, jubah yang sedang diwarnai tiba-tiba tampak seperti kulit sapi. Cairan pewarna tampak seperti darah. Tumbuhan yang direbus tampak seperti daging sapi. Bahkan mangkuk yang dipegangnya tampak seperti kepala sapi.

Coba bayangkan menjadi pemilik sapi itu.
Kita sedang mencari hewan yang hilang. Jejaknya membawa kita ke sebuah tempat terpencil. Di sana ada seseorang, dan di sekelilingnya tampak ada kulit, darah, daging, bahkan kepala sapi.
Apa yang akan kita simpulkan?
Pemilik sapi tidak melihat seorang pertapa yang tidak bersalah. Ia melihat seseorang yang menurut matanya telah membunuh sapinya.
Semua yang Terlihat Seolah Membuktikan Ia Bersalah
Liyue ditangkap, diikat, lalu dibawa menghadap raja. Raja memasukkannya ke penjara.
Bukan sehari.
Bukan sebulan.
Menurut Za Bao Zang Jing, ia berada di sana selama dua belas tahun.
Di penjara, sosok yang sebelumnya hidup sebagai pertapa itu menjadi kurus dan kusut. Rambut serta janggutnya memanjang. Ia bekerja merawat kuda dan membersihkan kotoran.

Aku justru merasa bagian ini lebih berat daripada adegan penangkapannya.
Kalau seseorang memfitnah kita selama satu hari saja, mungkin hati sudah ingin berteriak membela diri. Tetapi cerita ini menggambarkan seseorang yang menjalani ketidakadilan itu tahun demi tahun.
Lima Ratus Murid yang Tidak Menemukan Gurunya
Liyue mempunyai banyak murid. Teks menyebut lima ratus di antaranya telah menjadi arhat. Mereka mencoba mencari guru mereka, tetapi tidak mengetahui keberadaannya.
Baru ketika masa akibat perbuatannya dikisahkan hampir berakhir, salah seorang murid mengetahui bahwa gurunya ternyata berada di penjara Jibin.
Murid itu segera menemui raja.
Raja mengirim orang untuk memeriksa penjara. Tetapi utusan itu kembali dengan kabar aneh: tidak ada pertapa yang mereka cari. Yang mereka lihat hanyalah seseorang yang sangat kusut, berambut panjang, bekerja mengurus kuda dan membersihkan kotoran.

Murid Liyue kemudian meminta raja mengeluarkan perintah sederhana: siapa pun bhikkhu atau pertapa yang berada di dalam penjara diperbolehkan keluar.
Ketika Pintu Penjara Akhirnya Terbuka
Menurut cerita, ketika perintah itu diumumkan, rambut dan janggut Liyue luruh dengan sendirinya, jubahnya kembali tampak sebagai jubah seorang pertapa, dan ia menunjukkan kemampuan luar biasa yang dalam teks digambarkan sebagai delapan belas transformasi.
Raja akhirnya menyadari siapa orang yang selama dua belas tahun berada di penjaranya.
Ia bersujud dan meminta maaf.

Tetapi cerita belum selesai.
Raja bertanya mengapa seseorang seperti Liyue harus mengalami semua itu.
Ternyata Ia Pernah Berdiri di Posisi yang Sebaliknya
Liyue kemudian menceritakan sebuah kehidupan lampau.
Dahulu, katanya, ia sendiri pernah kehilangan seekor sapi.
Ketika mencarinya, ia bertemu seorang pratyekabuddha yang sedang bermeditasi sendirian di pegunungan. Tanpa mengetahui apa yang sebenarnya terjadi, ia menuduh pertapa itu mencuri sapinya.
Tuduhan tersebut berlangsung selama satu hari dan satu malam.

Dalam kerangka cerita Buddhis ini, penderitaan Liyue kemudian dijelaskan sebagai sisa akibat dari perbuatannya sendiri pada masa lampau. Bahkan setelah mencapai tingkat spiritual yang tinggi, kisah itu mengatakan bahwa akibat lama tersebut masih harus berbuah.
Orang yang hari ini menjadi korban sebuah tuduhan, dalam cerita ini pernah menjadi orang yang dahulu terlalu cepat menuduh.

Yang Bunbun Catat
Aku tidak membaca cerita ini sebagai alasan untuk mengatakan bahwa setiap orang yang mengalami ketidakadilan pasti pernah melakukan sesuatu yang buruk sebelumnya. Kita tidak punya cara untuk mengetahui hal seperti itu tentang kehidupan orang lain.
Yang justru terasa dekat bagiku adalah bagian sebelum tuduhan itu terjadi.
Pemilik sapi melihat sesuatu.
Apa yang dilihatnya tampak sangat meyakinkan.
Dan ternyata kesimpulannya tetap salah.

Mungkin itu catatan kecil yang masih berguna sampai sekarang: bukti yang tampak jelas belum tentu membuat kita memahami seluruh cerita.
Sebelum menuduh seseorang, mungkin ada baiknya memberi sedikit ruang untuk satu kemungkinan yang sering kita lupakan:
Bagaimana kalau aku belum melihat semuanya?
Catatan Kehati-hatian
Kisah ini terdapat dalam Za Bao Zang Jing (《雜寶藏經》), bagian berjudul Liyue Bei Bang Yuan (離越被謗緣), “Kisah Sebab-Musabab Liyue Difitnah”. Unsur perubahan jubah menjadi kulit sapi, cairan pewarna menjadi darah, serta berbagai kejadian luar biasa merupakan bagian dari narasi religius teks tersebut dan sebaiknya dipahami sebagai unsur cerita Buddhis, bukan laporan sejarah yang dapat diverifikasi secara modern.
Nama 離越 dapat ditransliterasikan dengan berbagai cara. Karena itu, artikel ini mempertahankan nama Liyue ketika merujuk langsung pada tokoh dalam teks Tionghoa, sambil mencatat hubungan penyebutannya dengan Revata dalam tradisi modern.
Referensi & Bacaan Lanjutan
《雜寶藏經》 Za Bao Zang Jing, T203,卷二, 離越被謗緣
Teks primer Buddhis Tionghoa yang memuat kisah Liyue dan dua belas tahun pemenjaraannya.
CBETA / Chinese Buddhist Electronic Text Association
Rujukan digital untuk teks kanonik Buddhis Tionghoa dan edisi Taishō.
SAT Daizōkyō Text Database, University of Tokyo
Basis data digital Taishō Tripiṭaka untuk pemeriksaan teks dan paralel kanonik.

Apa yang sedang kamu rasakan?
Pilih perasaanmu dan temukan cerita yang mungkin bisa menemani.
Bacaan ini hadir sebagai teman dan inspirasi, bukan pengganti bantuan profesional.

