SiBunbun.

Shanti Devi, Gadis Delhi yang Membuat Gandhi Ikut Bertanya

Pada 1935, Shanti Devi yang berusia sembilan tahun dibawa dari Delhi ke Mathura—kota yang selama bertahun-tahun ia sebut sebagai rumahnya. Di sana, sebuah cerita masa kecil berubah menjadi perjalanan mengenali jalan, rumah, sumur, dan orang-orang yang menurutnya pernah menjadi keluarganya.

Bunbun dan Aces mengamati kisah Shanti Devi di Mathura
3 minggu lalu 9 menit baca
Daftar Isi

Pada November 1935, Shanti Devi yang berusia sembilan tahun naik kereta dari Delhi menuju Mathura—kota yang selama bertahun-tahun ia sebut sebagai rumahnya.

Orang-orang dewasa yang ikut bersamanya ingin melihat satu hal sederhana: jika Shanti benar-benar tiba di kota itu, apakah ia akan mengenali sesuatu?

Bagi mereka, perjalanan itu adalah penyelidikan. Bagi Shanti, ia sedang pulang.

Semua bermula dari seorang anak di Delhi

Shanti Devi lahir di Delhi pada 1926. Tidak ada yang aneh pada awal kehidupannya. Sampai ketika ia masih sangat kecil, ia mulai berbicara tentang sebuah tempat yang menurut keluarganya belum pernah menjadi bagian dari hidupnya.

Mathura.

Jaraknya lebih dari seratus kilometer dari Delhi. Tetapi Shanti berbicara tentang kota itu bukan seperti anak yang pernah mendengar namanya dari orang dewasa. Ia mengatakan bahwa di sanalah rumahnya berada.

Ia pernah menjadi seorang perempuan yang sudah menikah, katanya. Suaminya seorang pedagang. Mereka mempunyai rumah. Ia juga pernah melahirkan seorang anak.

Dan kemudian ia meninggal.

Semakin besar Shanti, semakin banyak potongan cerita itu muncul. Ia membicarakan kehidupan rumah tangga, kebiasaan di rumah, toko kain, tempat-tempat di Mathura, dan cara hidup seorang perempuan dewasa. Beberapa kata yang digunakannya terdengar seperti dialek daerah yang ia sebut sebagai rumahnya.

Pada usia sekitar enam tahun, menurut catatan tentang kasusnya, Shanti bahkan pernah mencoba pergi sendiri menuju Mathura dengan membawa koper kecil.

Ia tidak berhasil.

Tetapi cerita tentang rumah yang lain itu tidak ikut menghilang.

Shanti Devi kecil bercerita kepada keluarganya tentang Mathura
Sejak kecil, Shanti Devi berulang kali berbicara kepada keluarganya tentang rumah, suami, dan kehidupan lain di Mathura. Hanya ilustrasi.

Sebuah nama yang bisa dicari

Selama bertahun-tahun, orang-orang di sekitar Shanti dapat menganggap semua itu sebagai cerita seorang anak.

Lalu ia memberikan nama.

Kedar Nath Chaubey.

Menurut Shanti, lelaki itulah suaminya. Ia juga memberikan alamat di Mathura.

Kepala sekolahnya, Lala Chand, akhirnya melakukan sesuatu yang mungkin tidak pernah dibayangkan keluarga Shanti: ia menulis surat ke alamat tersebut.

Dan seseorang membalasnya.

Di Mathura memang ada seorang pedagang bernama Kedar Nath Chaubey. Ia pernah mempunyai seorang istri bernama Lugdi Devi. Lugdi meninggal pada 1925, beberapa hari setelah melahirkan seorang putra.

Shanti lahir setahun kemudian.

Untuk pertama kalinya, perempuan dalam cerita Shanti mempunyai nama.

Orang-orang dari Mathura datang

Kedar Nath tidak langsung menemui Shanti. Lebih dahulu datang kerabatnya, Kanji Mal Chaubey.

Menurut laporan kasus, Shanti mengenalinya sebagai kerabat keluarga yang selama ini ia ceritakan. Ia juga menjawab pertanyaan mengenai kehidupan di Mathura.

Kanji Mal pulang dengan cukup banyak pertanyaan untuk membuat Kedar Nath akhirnya bersedia datang sendiri ke Delhi.

Tetapi mereka menyiapkan sebuah kejutan.

Kedar Nath diperkenalkan kepada Shanti bukan sebagai Kedar Nath, melainkan seolah-olah ia adalah saudaranya.

Shanti memandang lelaki itu.

Ia tidak menerima perkenalan tersebut.

Menurut laporan yang kemudian ditulis mengenai pertemuan itu, Shanti mengatakan bahwa lelaki tersebut bukan saudara suaminya. Dialah suaminya. Ia juga menunjuk ciri pada wajah Kedar Nath yang sebelumnya pernah ia gambarkan.

Bersama Kedar Nath datang pula Naunita Lal, putra yang dahulu dilahirkan Lugdi.

Anak lelaki itu sekarang lebih tua daripada Shanti.

Tetapi ketika Shanti melihatnya, ia memeluknya dan menangis.

Bayangkan keadaan di ruangan itu. Seorang gadis kecil memandang seorang anak yang lebih tua darinya dengan perasaan seorang ibu. Di hadapannya berdiri seorang lelaki dewasa yang ia panggil sebagai suaminya.

Kedar Nath kemudian berbicara berdua dengan Shanti dan menanyakan hal-hal pribadi dari kehidupan rumah tangganya bersama Lugdi. Catatan kasus menyebut jawaban-jawaban Shanti membuatnya sangat terkesan.

Setelah hari itu, kisah Shanti semakin sulit disimpan sebagai cerita kecil di sebuah rumah di Delhi.

Shanti Devi bertemu Kedar Nath di Delhi
Ketika Kedar Nath datang ke Delhi, Shanti dilaporkan tetap mengenalinya meskipun identitasnya sempat disamarkan. Hanya ilustrasi.

Lalu Gandhi mendengar namanya

Berita menyebar. Surat kabar mulai menulis. Orang-orang datang untuk mendengar sendiri cerita gadis kecil tersebut.

Pada akhirnya kisah itu sampai kepada Mahatma Gandhi.

Gandhi bertemu Shanti. Atas perhatiannya pada kasus tersebut, sebuah komisi yang beranggotakan tokoh masyarakat, pengacara, wartawan dan sejumlah orang terkemuka dibentuk untuk melakukan penyelidikan.

Mereka dapat terus bertanya kepada Shanti di Delhi.

Tetapi ada cara yang jauh lebih sederhana untuk mengetahui apa yang akan terjadi.

Bawa dia ke Mathura.

Mathura, 1935

Maka berangkatlah rombongan itu.

Shanti Devi dalam perjalanan menuju Mathura pada 1935
Pada November 1935, Shanti dibawa dari Delhi menuju Mathura bersama keluarga dan rombongan penyelidik. Hanya ilustrasi.

Shanti belum pernah melakukan perjalanan semacam ini bersama keluarganya di Delhi. Orang-orang di sekelilingnya mengamati apa yang ia katakan dan ke mana ia melihat.

Ketika kereta tiba di Mathura, bahkan peron stasiun segera menjadi bagian dari cerita.

Seorang pria yang tidak diperkenalkan berdiri di antara orang-orang yang menyambut rombongan.

Shanti melihatnya.

Menurut laporan komisi, ia turun, menghampiri lelaki itu dan menyentuh kakinya sebagai tanda hormat. Kemudian ia mengatakan bahwa orang tersebut adalah jeth-nya—kakak laki-laki suaminya.

Namanya Babu Ram Chaubey.

Ia memang kakak Kedar Nath.

Belum jauh meninggalkan stasiun, satu wajah dari kehidupan yang diceritakan Shanti sudah muncul di hadapannya.

“Biarkan Shanti menunjukkan jalannya”

Rombongan kemudian menaiki kendaraan.

Kali ini orang-orang dewasa tidak ingin memberitahukan tujuan. Mereka meminta Shanti menunjukkan arah.

Di sinilah cerita itu terasa berubah.

Selama bertahun-tahun Shanti hanya dapat menggambarkan Mathura melalui kata-kata. Sekarang jalan-jalan yang ia ceritakan benar-benar berada di depan matanya.

Ia memberi petunjuk arah.

Ia mengenali bagian-bagian kota.

Ia mengomentari perubahan yang menurutnya tidak ada dahulu.

Dan kendaraan itu akhirnya sampai ke lingkungan tempat Lugdi pernah tinggal.

Di antara orang-orang yang berkumpul, Shanti melihat seorang lelaki tua.

Ia mengenalinya sebagai ayah mertua Lugdi.

Lalu rombongan berhenti di depan sebuah rumah.

Ada masalah kecil.

Shanti selama ini mengatakan bahwa rumahnya berwarna kuning.

Rumah di hadapannya berwarna putih.

Untuk sesaat, detail itu tampaknya tidak cocok.

Kemudian keluarga menjelaskan bahwa rumah tersebut memang dahulu berwarna kuning. Catnya telah diganti setelah Lugdi meninggal.

“Kalau aku berada di sana, mungkin pada titik ini aku sudah mulai berhenti menghitung kebetulan. Karena setiap kali rasanya cerita akan berakhir, muncul satu pintu lagi yang bisa dibuka.”

Shanti Devi menunjukkan jalan di Mathura
Di Mathura, orang-orang dewasa membiarkan Shanti menunjukkan sendiri jalan menuju lingkungan yang menurutnya pernah menjadi rumahnya. Hanya ilustrasi.

Ia masuk seperti seseorang yang pernah tinggal di sana

Shanti memasuki rumah.

Yang ada di hadapannya bukan lagi nama dan alamat yang diucapkan di Delhi. Ada pintu, halaman, tangga dan kamar-kamar yang dapat disentuh.

Menurut catatan penyelidikan, ia menunjukkan bagian-bagian rumah dan mengenali ruang yang dikaitkan dengan kehidupan Lugdi bersama Kedar Nath.

Kemudian seseorang bertanya tentang sebuah sumur.

Shanti pernah membicarakannya ketika masih di Delhi.

Ia bergegas menuju halaman.

Tetapi tidak ada sumur di sana.

Shanti tampak kebingungan. Ia tetap bersikeras bahwa di tempat itu dahulu terdapat sebuah sumur.

Kedar Nath kemudian menyingkirkan penutup batu pada lokasi yang ditunjuknya.

Di bawahnya terdapat sumur lama yang telah ditutup.

Lalu muncul satu ingatan lain.

Uang.

Shanti mengatakan bahwa ketika menjadi Lugdi ia pernah menyimpan sekitar 150 rupee di rumah. Ia membawa rombongan ke tempat yang ia maksud.

Uangnya tidak ada.

Shanti bersikeras bahwa ia pernah menyimpannya di sana.

Kedar Nath kemudian mengakui bahwa setelah Lugdi meninggal, uang tersebut telah diambilnya.

Rumah itu seolah membuka ingatan demi ingatan.

Shanti Devi menunjukkan lokasi sumur lama di Mathura
Di sebuah rumah di Mathura, Shanti mencari sumur yang pernah ia ceritakan. Sumur itu tidak terlihat karena telah ditutup. Hanya ilustrasi.

Tetapi rumah Kedar Nath bukan satu-satunya rumah yang ia ingat

Shanti kemudian meminta dibawa ke rumah orang tua Lugdi.

Di sana, ujian yang dihadapinya jauh lebih manusiawi daripada mengenali sebuah kamar atau sumur.

Wajah.

Orang-orang berdiri di hadapannya. Sebagian telah berubah karena usia. Sebagian mungkin hanya pernah dikenalnya ketika ia—jika ceritanya benar—masih hidup sebagai Lugdi.

Shanti mengenali sejumlah anggota keluarga. Pada satu kesempatan ia sempat mengira seorang bibi sebagai ibunya, lalu kemudian membedakan mereka. Ia mengenali ayah Lugdi dan kerabat lainnya.

Ketika bertemu salah seorang saudara laki-laki Lugdi, laporan menggambarkan reaksi yang sangat emosional.

Dan ketika berhadapan dengan orang tua Lugdi, suasananya menjadi begitu berat sehingga para anggota rombongan kemudian menulis tentang kesedihan perpisahan yang terjadi ketika Shanti harus meninggalkan mereka kembali.

Bayangkan sebentar.

Orang-orang tua itu telah kehilangan seorang anak perempuan bernama Lugdi hampir sepuluh tahun sebelumnya.

Sekarang di hadapan mereka berdiri seorang gadis sembilan tahun dari Delhi yang memanggil mereka seperti keluarga.

Dan gadis itu sebentar lagi harus pergi lagi.

Shanti Devi bertemu keluarga Lugdi Devi di Mathura
Pertemuan Shanti dengan keluarga Lugdi di Mathura menjadi salah satu bagian paling emosional dalam perjalanan tersebut. Hanya ilustrasi.

Sehari yang mengubah sebuah cerita menjadi catatan penyelidikan

Perjalanan di Mathura berlanjut ke tempat-tempat lain yang pernah disebut Shanti. Ia mengenali orang, rumah dan lokasi, serta menggunakan atau memahami sejumlah istilah lokal yang menarik perhatian para pengamat.

Pada akhir kunjungan, rombongan pulang membawa lebih dari sekadar cerita seorang anak.

Mereka membawa catatan tentang apa yang mereka saksikan.

Komisi menerbitkan laporannya pada 1936 dan menyimpulkan bahwa pengalaman Shanti mendukung klaim kelahiran kembali Lugdi Devi.

Tentu tidak semua orang menerima kesimpulan itu. Pada masa yang sama, Bal Chand Nahata melakukan pemeriksaannya sendiri dan berpendapat bahwa bahan yang tersedia belum cukup untuk menyimpulkan reinkarnasi.

Perdebatan itu sudah berlangsung hampir sejak awal.

Tetapi justru di situlah Shanti Devi kemudian mendapatkan tempat yang tidak biasa dalam sejarah penelitian kelahiran kembali: ada keterangan yang sudah dicatat sebelum kunjungan ke Mathura, ada keluarga yang dapat ditemukan, ada perjalanan yang disaksikan banyak orang, dan ada laporan yang dapat dibaca kembali setelah orang-orang yang terlibat pulang ke kehidupan mereka masing-masing.

Bertahun-tahun kemudian, para peneliti masih kembali kepadanya

Shanti tumbuh dewasa. Tetapi kisah masa kecilnya tidak ikut menghilang.

Peneliti dan penulis kembali mewawancarainya. Ian Stevenson—psikiater dari University of Virginia yang kemudian menghabiskan puluhan tahun mengumpulkan kasus anak-anak yang berbicara tentang kehidupan sebelumnya—juga menaruh perhatian pada kasus Shanti dalam konteks penelitian yang lebih luas.

Dan dari sinilah cerita seorang gadis kecil di Delhi bertemu dengan sesuatu yang jauh lebih besar.

Stevenson dan peneliti sesudahnya mengumpulkan ribuan laporan anak dari berbagai negara. Tidak semuanya seperti Shanti. Tidak semuanya mempunyai perjalanan ke sebuah rumah lama. Tetapi pertanyaan yang berada di belakangnya serupa: mengapa sebagian anak kecil berbicara seolah-olah mereka membawa potongan kehidupan seseorang yang telah meninggal?

Shanti tidak pernah memberi dunia sebuah jawaban akhir.

Ia meninggalkan sebuah cerita.

Dan hampir seabad kemudian, orang masih membacanya.

Bunbun dan kucing

Yang Bunbun Catat

Ada bagian yang paling lama tinggal di kepalaku: bukan ketika Shanti menyebut nama Kedar Nath di Delhi, melainkan ketika ia akhirnya berdiri di Mathura dan mulai mengenali dunia yang selama bertahun-tahun hanya hidup dalam ingatannya.

Rumah bisa dicari. Nama bisa diperiksa. Tetapi rasa ketika bertemu seseorang dan merasa bahwa ia pernah menjadi keluargamu—aku tidak tahu bagaimana menjelaskannya.

Mungkin itulah sebabnya kisah Shanti masih terus dibicarakan. Ia menyisakan sebuah kemungkinan kecil yang sulit sekali ditutup rapat:

bagaimana jika hidup memang tidak selalu dimulai pada hari kita dilahirkan?


Apa yang kamu rasakan setelah membaca?

Pilih yang paling menggambarkan perasaanmu.

0 orang sudah merasakan hal yang sama.

Bagikan artikel ini

Jika menginspirasi, bagikanlah kepada yang lain.

Facebook

Mungkin cerita ini sedang mencarimu

Bunbun mengambil tiga cerita secara acak. Semoga salah satunya terasa seperti memang dihadirkan khusus untukmu.

dipilih acak dari rak SiBunbun

Mau melangkah lebih jauh?

Kalau cerita ini sepertinya ingin tahu lebih banyak, ada dua tempat yang bisa kamu kunjungi.