Daftar Isi
CATATAN BUNBUN · JEJAK BUDDHA
Selama ini aku mengenal Guanyin sebagai sosok perempuan.
Wajah yang lembut. Jubah yang mengalir. Kadang membawa sebuah vas dan ranting willow.
Bagi banyak keluarga Tionghoa, sosok Guanyin begitu akrab sehingga rasanya ia memang sudah seperti itu sejak dahulu.
Sampai suatu hari aku melihat representasi Avalokiteśvara dari masa yang jauh lebih awal.
Ada sesuatu yang terasa berbeda.
Sosoknya tidak seperti Guanyin yang selama ini kukenal.
Dari situlah muncul sebuah pertanyaan sederhana:
Apakah Guanyin sejak awal memang seorang perempuan?
Awalnya aku kira jawabannya cukup sederhana.
Avalokiteśvara berasal dari India dan dalam banyak representasi awal digambarkan sebagai sosok maskulin. Ketika Buddhisme masuk dan berkembang di Tiongkok, representasinya perlahan berubah hingga muncul sosok Guanyin feminin yang begitu kita kenal sekarang.
Aku bahkan pernah membuat video singkat dengan sudut pandang seperti itu.
Tetapi setelah membaca lebih jauh, aku menyadari sesuatu.
Ternyata ceritanya tidak sesederhana itu.
Dan justru bagian yang paling menarik bukanlah soal laki-laki atau perempuan.
Ada sesuatu yang jauh lebih dalam di balik perjalanan Guanyin.

Sebelum Ada Guanyin, Ada Avalokiteśvara
Dalam tradisi Buddhisme Mahāyāna, Avalokiteśvara adalah salah satu Bodhisattva yang paling dikenal.
Ia sangat erat dikaitkan dengan karuṇā—belas kasih terhadap makhluk yang menderita.
Ketika Buddhisme menyebar dari India melalui Asia Tengah menuju Tiongkok, bukan hanya para bhiksu yang melakukan perjalanan.
Kitab, gagasan, cerita, praktik keagamaan, dan karya seni ikut berjalan bersama mereka.
Avalokiteśvara pun ikut dalam perjalanan panjang tersebut.
Di Tiongkok, namanya dikenal antara lain sebagai Guanshiyin 觀世音, kemudian lebih umum disingkat menjadi Guanyin 觀音.
Dalam banyak representasi Buddhis awal, Avalokiteśvara digambarkan sebagai sosok maskulin atau dalam bentuk yang gendernya bukan menjadi bagian terpenting dari identitasnya.
Representasi awal Guanyin di Tiongkok juga belum selalu menyerupai sosok perempuan berjubah putih yang begitu akrab bagi kita hari ini.
Perubahannya berlangsung perlahan.
Selama berabad-abad.

Video yang Pernah Kubuat
Ini versi singkat yang pernah kubuat ketika pertama kali mempelajari perjalanan Avalokiteśvara menjadi Guanyin. Setelah video ini dibuat, aku membaca lebih jauh dan menemukan bahwa ceritanya ternyata jauh lebih berlapis.
Ketika Buddhisme Bertemu Tiongkok
Buddhisme tidak masuk ke ruang kosong.
Ketika tiba di Tiongkok, ia bertemu dengan kebudayaan yang sudah memiliki sejarah panjang, nilai keluarga yang kuat, tradisi religius sendiri, cara memahami dunia, serta imajinasi tentang kehidupan dan kematian.
Maka Avalokiteśvara tidak sekadar mendapatkan nama Tionghoa.
Cara masyarakat membayangkan dan berhubungan dengannya juga berkembang.
Dalam perjalanan panjang tersebut, representasi Guanyin perlahan memperoleh karakteristik feminin yang semakin kuat.
Pada masa-masa berikutnya, bentuk perempuan akhirnya menjadi salah satu representasi Guanyin yang paling dikenal di Tiongkok dan kemudian di berbagai wilayah Asia Timur.
Mengapa perubahan ini terjadi?
Di sinilah aku harus berhati-hati.
Tidak ada satu jawaban sederhana yang menjelaskan semuanya.
Para peneliti membicarakan berbagai faktor: perkembangan teks dan ikonografi Buddhis, praktik devosional masyarakat, perjumpaan dengan kebudayaan Tiongkok, berkembangnya sifat keibuan Guanyin, hingga munculnya legenda-legenda lokal.
Jadi rasanya kurang tepat jika seluruh proses selama berabad-abad itu diringkas menjadi:
“Avalokiteśvara adalah seorang pria yang kemudian berubah menjadi dewi perempuan.”
Itu menarik sebagai judul.
Tetapi sejarahnya jauh lebih kaya.
Lalu aku menemukan sesuatu dalam sebuah sutra.
Dan setelah membaca bagian itu, pertanyaan tentang gender tadi tiba-tiba terasa berbeda.

Avalokiteśvara Tidak Terikat pada Satu Rupa
Salah satu teks penting tentang Avalokiteśvara terdapat dalam Bab 25 Lotus Sūtra.
Bab ini sering dikenal sebagai The Universal Gate of the Bodhisattva Avalokiteśvara.
Di dalamnya, Avalokiteśvara digambarkan sebagai Bodhisattva yang memperhatikan penderitaan makhluk dan dapat tampil dalam berbagai bentuk sesuai keadaan makhluk yang hendak ditolong.
Ia tidak harus selalu hadir dengan satu rupa.
Dan di sinilah aku mulai melihat cerita Guanyin dari sudut yang berbeda.
Mungkin sejak awal kita terlalu sibuk bertanya:
“Mengapa Avalokiteśvara yang laki-laki akhirnya menjadi Guanyin yang perempuan?”
Padahal ada pertanyaan lain yang menurutku jauh lebih menarik:
Mengapa belas kasih harus mempunyai satu wajah?
Kalau tujuan seorang Bodhisattva adalah membantu makhluk yang menderita, maka bentuk bukanlah tujuannya.
Menolong makhluklah yang penting.
Dan gagasan ini membuat berbagai manifestasi Avalokiteśvara terasa jauh lebih masuk akal bagiku.

Seribu Mata untuk Melihat, Seribu Tangan untuk Menolong
Mungkin kamu pernah melihat satu bentuk Guanyin yang sangat berbeda.
Banyak tangan.
Banyak mata.
Ia dikenal sebagai Guanyin Seribu Tangan dan Seribu Mata.
Gambaran itu sangat kuat.
Mata untuk melihat penderitaan.
Tangan untuk memberikan pertolongan.
Tentu saja, kita tidak harus memahaminya sebagai persoalan anatomi.
Ini adalah bahasa simbol.
Seolah ingin mengatakan:
Penderitaan makhluk tidak hanya memiliki satu bentuk. Maka belas kasih pun membutuhkan banyak cara untuk menjangkaunya.
Dan dalam perjalanan Buddhisme di Tiongkok, berbagai bentuk Guanyin terus berkembang.
Ada Water-Moon Guanyin, atau Shuiyue Guanyin 水月觀音, yang menjadi salah satu bentuk khas dalam seni Buddhis Tiongkok.
Ada Guanyin yang dikaitkan dengan perlindungan dan penyembuhan.
Ada pula bentuk Guanyin yang semakin kuat diasosiasikan dengan sifat keibuan dan pemberian anak.
Sedikit demi sedikit, Avalokiteśvara yang datang bersama perjalanan Buddhisme dari India tidak lagi terasa seperti sosok asing.
Guanyin telah menjadi bagian dari kehidupan masyarakat Tiongkok.

Lalu Bagaimana dengan Putri Miaoshan?
Nah, ini bagian lain yang membuatku penasaran.
Ada sebuah cerita yang sangat terkenal dalam tradisi Tiongkok tentang seorang putri bernama Miaoshan 妙善.
Ia menolak kehidupan yang direncanakan ayahnya, mengalami penderitaan, dan dalam perkembangan legenda kemudian dikaitkan dengan Guanyin.
Cerita ini begitu populer sehingga bagi sebagian orang, kisah Miaoshan terasa seperti kisah kehidupan Guanyin sendiri.
Tetapi di sini kita perlu membedakan teks Buddhis yang lebih awal dengan legenda yang berkembang kemudian.
Miaoshan bukanlah biografi historis Avalokiteśvara dari India.
Ia merupakan bagian dari perkembangan tradisi Guanyin di Tiongkok.
Dan justru itu membuat ceritanya menarik.
Bagaimana seorang Bodhisattva yang berasal dari tradisi Buddhis India akhirnya mendapatkan sesuatu seperti “biografi Tionghoa”?
Aku rasa cerita itu terlalu menarik kalau hanya disisipkan beberapa paragraf di sini.
Jadi kita simpan untuk catatan tersendiri.

Jadi, Guanyin Laki-laki atau Perempuan?
Setelah membaca sejauh ini, mungkin pertanyaan itu masih tersisa.
Dan semakin aku mempelajarinya, semakin aku merasa bahwa jawabannya memang tidak cocok dimasukkan ke dalam satu kotak sederhana.
Dalam perjalanan panjang ikonografi Buddhis, Avalokiteśvara dan Guanyin hadir dalam berbagai representasi.
Ada yang maskulin.
Ada yang feminin.
Ada pula yang gendernya bukan menjadi penekanan utama.
Di Tiongkok, representasi feminin kemudian berkembang sangat kuat sampai akhirnya menjadi bentuk Guanyin yang paling akrab bagi banyak orang.
Tetapi kalau kita berhenti hanya pada perubahan gender, rasanya kita justru melewatkan sesuatu yang lebih penting.
Karena di balik berbagai rupa itu, ada satu hal yang terus muncul:
karuṇā.
Belas kasih terhadap penderitaan makhluk.

Yang Bunbun Catat

Belas kasih tidak kehilangan intinya ketika tampil dalam bentuk berbeda.
Perjalanan Guanyin mengingatkan kita bahwa simbol dapat berubah mengikuti bahasa dan budaya, sementara dorongan untuk mendengar penderitaan tetap hidup.
Awalnya aku masuk ke cerita ini karena sebuah fakta yang terdengar mengejutkan.
“Guanyin yang kita kenal sebagai perempuan ternyata berakar pada Avalokiteśvara yang dalam banyak representasi awal digambarkan sebagai laki-laki.”
Itu memang menarik.
Tapi setelah mengikuti perjalanan ceritanya, justru bukan bagian itu yang paling lama tinggal di kepalaku.
Aku malah memikirkan sesuatu yang sangat sederhana.
Ketika melihat seseorang sedang menderita…
apakah aku menolongnya dengan cara yang ingin kuberikan, atau dengan cara yang benar-benar ia butuhkan?
Kadang seseorang membutuhkan nasihat.
Kadang ia membutuhkan bantuan nyata.
Kadang ia membutuhkan seseorang yang mau mendengarkan.
Dan kadang ia hanya membutuhkan seseorang yang bersedia tetap berada di sisinya.
Bentuk pertolongannya berbeda.
Tetapi sumbernya bisa sama:
belas kasih.
Mungkin kita tidak memiliki seribu tangan.
Kita juga tidak mempunyai seribu mata.
Tetapi kita mempunyai dua mata yang bisa belajar melihat penderitaan orang lain.
Dan dua tangan yang masih bisa digunakan untuk melakukan sesuatu.
Jadi setelah menelusuri perjalanan Avalokiteśvara menjadi Guanyin, inilah satu hal yang ingin kucatat:
Belas kasih tidak harus mempunyai satu wajah.Yang penting adalah apakah ia benar-benar hadir ketika ada makhluk yang membutuhkan pertolongan.
Catatan Kehati-hatian
Perkembangan Avalokiteśvara menjadi Guanyin feminin di Tiongkok merupakan proses panjang selama berabad-abad. Karena itu, tulisan ini sengaja tidak menggunakan penjelasan sederhana bahwa seorang figur laki-laki pada suatu saat “berubah” menjadi perempuan.
Ada berbagai penjelasan akademis mengenai perkembangan tersebut, termasuk perkembangan teks dan ikonografi Buddhis, praktik devosional, perjumpaan Buddhisme dengan kebudayaan Tiongkok, berkembangnya fungsi keibuan Guanyin, dan tradisi serta legenda lokal.
Kisah Putri Miaoshan juga perlu dibedakan dari sumber Buddhis India yang lebih awal. Ia merupakan bagian penting dari perkembangan legenda Guanyin di Tiongkok, tetapi bukan biografi historis Avalokiteśvara.
Jejak bacaan: Daftar berikut membantu pembaca menelusuri sumber, terjemahan, dan bacaan lanjutan yang berkaitan dengan kisah ini.

Referensi & Bacaan Lanjutan
Aku tidak ingin kamu harus percaya begitu saja pada apa yang kutulis. Kalau ingin memeriksa dan menelusuri cerita ini lebih jauh, beberapa sumber yang menjadi titik awal catatan ini antara lain:
Catatan ini akan terus diperbarui jika aku menemukan sumber yang membuat pemahamanku menjadi lebih lengkap—atau bahkan membuat sebagian pemahamanku hari ini perlu diperbaiki.
Namanya juga belajar.
— Bunbun

Apa yang sedang kamu rasakan?
Pilih perasaanmu dan temukan cerita yang mungkin bisa menemani.
Bacaan ini hadir sebagai teman dan inspirasi, bukan pengganti bantuan profesional.

