Daftar Isi
Bunyi yang terdengar sepele, tetapi ternyata menyimpan kisah panjang tentang etika, penghormatan, dan budaya Tionghoa.
Halo, aku Bunbun…
Waktu kecil, aku punya satu kebiasaan yang mungkin juga pernah dilakukan banyak anak.
Kalau makanan belum datang, tanganku tidak pernah bisa diam.
Aku mengambil sendok, lalu mulai mengetuk-ngetuk piring kosong di depanku.
Ting… ting… ting…
Menurutku bunyinya lucu.

Kadang semakin lama malah semakin cepat.
Aku sama sekali tidak merasa sedang melakukan sesuatu yang salah.
Suatu hari, keluarga besar berkumpul di rumah kakek. Meja makan sudah dipenuhi berbagai hidangan. Aroma ayam rebus, tumisan sayur, ikan, dan sup hangat memenuhi ruangan.
Sambil menunggu semua orang duduk, aku kembali memainkan sendokku.
Ting… ting… ting…
Belum sampai lima detik, tangan kakek perlahan menyentuh bahuku.
Beliau tidak membentak.
Tidak pula memarahiku.
Dengan suara yang tenang beliau berkata,
“Bunbun… jangan membunyikan piring kosong seperti itu.”
Aku langsung berhenti.
“Kenapa memangnya, Kek?”
Kakek tersenyum.
“Nanti kalau sudah besar, kamu akan mengerti.”
Jawaban itu membuatku semakin penasaran.
Mengapa hanya mengetuk piring kosong saja tidak boleh?
Bukankah aku hanya sedang bermain?
Bertahun-tahun kemudian, rasa penasaran itu membawaku mencari berbagai buku dan tulisan mengenai budaya Tionghoa.
Dan ternyata…
Bunyi kecil yang dulu sering kubuat itu memang memiliki cerita yang jauh lebih panjang daripada yang pernah kubayangkan.

Bunyi yang Memiliki Makna
Kalau kita bertanya kepada beberapa orang Tionghoa yang lebih tua, mungkin kita akan mendengar jawaban seperti ini.
“Jangan mengetuk mangkuk.”
“Jangan membunyikan piring kosong.”
“Itu tidak sopan.”
Ada pula yang menjawab,
“Nanti rezekinya tidak baik.”
Namun setelah membaca berbagai referensi sejarah dan budaya, aku menyadari bahwa penjelasannya jauh lebih menarik daripada sekadar kata “pamali”.
Dalam banyak komunitas Tionghoa, bunyi mangkuk atau piring yang diketuk berulang kali sering diasosiasikan dengan orang yang sedang meminta makanan.
Karena itulah, tindakan tersebut dianggap kurang pantas dilakukan ketika sedang menikmati hidangan bersama keluarga.
Yang dijaga sebenarnya bukan bunyinya.
Melainkan makna yang melekat pada bunyi tersebut.

Dari Mana Anggapan Itu Berasal?
Pada masa lalu, kehidupan masyarakat tidak semudah sekarang.
Di berbagai kota di Tiongkok, orang-orang yang hidup dalam kemiskinan terkadang mencari perhatian dengan berbagai cara ketika meminta makanan atau sedekah.
Dalam cerita rakyat, karya sastra, hingga tradisi lisan di beberapa daerah, muncul gambaran tentang pengemis yang membawa mangkuk dan mengeluarkan bunyi untuk menarik perhatian orang di sekitarnya.
Walaupun kebiasaan ini tidak selalu dilakukan di semua tempat atau semua zaman, gambaran tersebut akhirnya melekat dalam ingatan masyarakat.
Lama-kelamaan, bunyi mangkuk atau piring yang diketuk mulai diasosiasikan dengan meminta-minta.
Karena itulah, keluarga-keluarga Tionghoa mengajarkan anak-anak untuk tidak melakukannya ketika sedang makan.
Bukan karena takut terjadi sesuatu yang buruk.
Tetapi agar meja makan tetap menjadi tempat yang penuh rasa hormat.
Meja Makan Adalah Tempat Belajar
Semakin dewasa, aku semakin menyadari bahwa meja makan ternyata bukan hanya tempat mengisi perut.
Di sanalah anak-anak belajar menunggu.
Belajar berbagi.
Belajar menghormati orang yang lebih tua.
Dan belajar menjaga tata krama.
Mungkin karena itulah orang tuaku dan kakek-nenekku selalu mengingatkan hal-hal kecil yang dulu terasa tidak penting.
Jangan memainkan sendok.
Jangan mengetuk piring.
Jangan berbicara terlalu keras ketika orang lain sedang makan.
Semua itu perlahan membentuk kebiasaan menghargai orang lain.

Tidak Semua Tradisi Sama
Hal yang menarik adalah, tidak semua keluarga Tionghoa memiliki aturan yang persis sama.
Ada keluarga yang sangat menjaga etika meja makan.
Ada pula yang lebih santai.
Bahkan di berbagai daerah di Tiongkok maupun di komunitas Tionghoa Peranakan di Asia Tenggara, kebiasaan ini bisa berbeda-beda.
Karena itulah, kita tidak bisa mengatakan bahwa setiap orang Tionghoa pasti mempercayai hal yang sama.
Namun satu benang merah tetap terlihat.
Sebagian besar aturan tersebut lahir dari keinginan menjaga rasa hormat, kesopanan, dan suasana kebersamaan ketika makan.
Lebih Penting Menghargai daripada Mempercayai
Menurutku, bagian inilah yang paling menarik.
Saat kecil, aku mengira semua larangan dibuat untuk menakut-nakuti anak-anak.
Setelah dewasa, aku justru menemukan bahwa sebagian besar larangan itu sebenarnya mengajarkan sikap.
Menghargai makanan.
Menghargai keluarga.
Menghargai orang yang sedang makan bersama kita.
Dan menghargai tradisi yang diwariskan oleh generasi sebelumnya.
Kalaupun suatu hari nanti kita makan bersama keluarga yang masih menjaga etika ini, menurutku tidak ada salahnya ikut menghormatinya.
Karena menghormati budaya orang lain sering kali dimulai dari tindakan-tindakan kecil.

Yang Aku Pelajari Hari Ini
Kalau mengingat kembali kejadian bersama kakek, aku selalu tersenyum.
Beliau tidak pernah menjelaskan sejarah panjang tentang budaya Tionghoa.
Beliau juga tidak menceritakan kisah para pengemis pada masa lalu.
Beliau hanya berkata,
“Jangan membunyikan piring kosong.”
Kini aku baru memahami maksudnya.
Kadang-kadang, orang tua mengajarkan sesuatu bukan karena mereka ingin kita takut.
Melainkan karena mereka ingin kita belajar menghormati kebiasaan yang telah diwariskan selama bertahun-tahun.
Dan menurutku, itulah bagian yang paling indah dari sebuah tradisi.


Catatan Bunbun
Catatan kecil: Bunbun sedang menuliskan bagian yang paling berkesan dari kisah ini. Kamu boleh berhenti sejenak dan mencatat hal yang ingin kamu ingat.

Setelah mencari tahu asal-usul kebiasaan ini, aku menyadari bahwa banyak hal yang dulu terdengar seperti “pamali” ternyata lahir dari pengalaman hidup masyarakat pada zamannya.
Tidak semuanya harus dipercaya sebagai sesuatu yang mistis.
Namun hampir semuanya mengajarkan satu hal yang sama: menghargai orang lain.
Kadang sebuah tradisi bertahan bukan karena rasa takut, melainkan karena rasa hormat.
Dan menurutku, selama sebuah tradisi mengajarkan kebaikan, kesopanan, dan saling menghargai, selalu ada sesuatu yang bisa kita pelajari darinya.
Sampai jumpa di Cerita Bunbun berikutnya.
Referensi Bacaan
Jejak bacaan: Daftar berikut membantu pembaca menelusuri sumber, terjemahan, dan bacaan lanjutan yang berkaitan dengan kisah ini.

- Patricia Buckley Ebrey. The Cambridge Illustrated History of China.
- K. C. Chang (Ed.). Food in Chinese Culture: Anthropological and Historical Perspectives.
- E. N. Anderson. The Food of China.
- John Francis Davis. The Chinese: A General Description of the Empire of China and Its Inhabitants.
- Literatur mengenai etika makan dan budaya masyarakat Tionghoa Peranakan.
- Publikasi akademik mengenai tradisi lisan dan tata krama dalam budaya Tionghoa.
Kategori: Tradisi Tionghoa
Seri: Cerita Bunbun #002
Artikel Selanjutnya: Mengapa Memberikan Jam Sebagai Hadiah Dianggap Kurang Baik dalam Budaya Tionghoa?

Apa yang sedang kamu rasakan?
Pilih perasaanmu dan temukan cerita yang mungkin bisa menemani.
Bacaan ini hadir sebagai teman dan inspirasi, bukan pengganti bantuan profesional.

