Ringkasan Cerita
Alur Cerita dalam 3 Adegan
Gambaran singkat sebelum mengikuti kisah selengkapnya.

Pembuka
Seorang ibu marah ketika putrinya memberi dan mengucapkan kata-kata buruk terhadap pemberian itu. Bisakah satu ucapan yang lahir dari kemarahan terus membekas setelah orangnya meninggal?

Perjalanan
Dalam Uttaramātupetivatthu, sang ibu mengalami penderitaan yang secara simbolis berkaitan dengan ucapan dan sikapnya terhadap kemurahan hati. Ia kemudian membutuhkan kebajikan orang lain untuk keluar dari keadaan itu.

Jawaban
Pertolongan datang melalui pemberian dan pelimpahan jasa. Kisah ini mengingatkan bahwa menghalangi kebaikan orang lain dapat merusak batin kita sendiri, sedangkan ikut mendukung kebajikan membuka arah yang berlawanan.
Daftar Isi
Halo, aku Bunbun.
Bayangkan seseorang berdiri di tepi Sungai Gangga. Air mengalir begitu banyak di hadapannya—dingin, jernih, turun dari arah Himalaya. Tetapi orang itu sudah 55 tahun tidak dapat meminumnya.
Setiap kali tangannya mengambil air dari sungai, air itu berubah menjadi darah.
Inilah kisah seorang perempuan dalam Petavatthu yang dikenal sebagai ibu Uttara.
Perempuan Berambut Panjang di Tepi Gangga

Suatu hari seorang bhikkhu sedang beristirahat pada siang hari di tepi Sungai Gangga. Seorang perempuan mendekatinya.
Penampilannya menyedihkan. Rambutnya sangat panjang hingga menjuntai ke tanah, dan ia menggunakan rambut itu untuk menutupi tubuhnya.
Ia mengatakan sesuatu yang membuat pertemuan itu semakin memilukan. Sudah lima puluh lima tahun sejak ia meninggal. Selama waktu itu, katanya, ia tidak ingat pernah memperoleh makanan ataupun air minum.
Ia meminta kepada bhikkhu tersebut: berilah aku air. Aku haus.
“Bukankah Sungai Gangga Ada di Depanmu?”

Permintaan itu terdengar aneh. Sungai Gangga mengalir tepat di hadapan mereka.
Bhikkhu itu mengatakan kurang lebih: air Gangga ini dingin dan mengalir dari Himalaya. Ambillah dari sini dan minumlah. Mengapa meminta air kepadaku?
Jawaban perempuan itu mengungkap penderitaan sebenarnya. Jika ia sendiri mengambil air Gangga untuk diminum, katanya, air itu berubah menjadi darah.
Bhikkhu tersebut kemudian bertanya: perbuatan apakah yang dahulu dilakukan melalui tubuh, ucapan, atau pikiran sehingga sekarang Gangga berubah menjadi darah baginya?
Dan perempuan itu mulai menceritakan kehidupan sebelumnya.
Ia Memiliki Seorang Putra Bernama Uttara

Putranya bernama Uttara. Berbeda dengan ibunya, Uttara adalah seorang upāsaka yang memiliki keyakinan dan senang memberi.
Ia memberikan jubah. Ia memberikan makanan. Ia membantu menyediakan tempat tinggal dan berbagai kebutuhan bagi para samana.
Masalahnya, semua itu dilakukan meskipun ibunya tidak menyukainya. Sang ibu dikuasai kekikiran. Alih-alih ikut bersukacita melihat putranya berbuat baik, ia justru mencelanya.
Uttara merasa bahagia ketika sesuatu miliknya dapat bermanfaat bagi orang lain. Ibunya justru merasa kehilangan ketika sesuatu diberikan.
Lalu Keluar Sebuah Ucapan

Dalam kemarahannya terhadap kemurahan hati Uttara, sang ibu mengucapkan kata-kata yang sangat keras.
Ia mencela pemberian jubah, makanan, tempat tinggal, dan berbagai kebutuhan yang dilakukan putranya. Kemudian ia mengucapkan harapan buruk: semoga apa yang Uttara berikan itu kelak menjadi darah baginya.
Menurut kisah tersebut, ucapan yang lahir dari kekikiran itulah yang kemudian berbalik menjadi bagian dari penderitaannya sendiri.
Setelah meninggal, ia terlahir sebagai peta. Dan sekarang, ketika air Sungai Gangga berada tepat di hadapannya, ia tidak dapat menikmatinya. Air itu menjadi darah baginya.
Penderitaannya Bukan karena Sungainya

Bagian ini membuatku berhenti sebentar. Gangga tidak berubah. Air tetap mengalir seperti biasa. Orang lain dapat mengambilnya dan minum.
Yang berbeda adalah pengalaman makhluk yang berdiri di hadapannya. Dalam logika moral kisah Petavatthu, penderitaan itu dihubungkan dengan kamma perempuan tersebut sendiri.
Sesuatu yang sebenarnya tersedia menjadi tidak dapat dinikmati. Dan gambaran itu terasa sangat kuat. Seseorang bisa hidup dikelilingi banyak hal, tetapi batinnya sendiri membuat semuanya terasa tidak cukup.
Kekikiran yang Lebih Halus
Kekikiran tidak selalu berbentuk seseorang memeluk peti emas sambil berkata, “Ini semua milikku.” Kadang bentuknya jauh lebih biasa.
Kita melihat seseorang membantu orang lain dan berpikir, “Ngapain kasih sebanyak itu?” Atau seseorang menggunakan waktunya untuk membantu dan kita berkata, “Buat apa repot-repot?”
Bahkan mungkin kita tidak mengambil apa pun dari orang lain. Kita hanya tidak senang melihat orang lain memberi.
Itulah yang membuat kisah ibu Uttara menarik. Masalahnya bukan hanya ia sendiri tidak memberi. Ia juga tidak menyukai kemurahan hati putranya.
Ada Kebalikan yang Indah dalam Cerita Ini
Uttara memberi sesuatu dan merasa bahagia. Ibunya melihat sesuatu diberikan dan merasa kehilangan. Barang yang sama. Peristiwa yang sama. Tetapi dua batin menghasilkan pengalaman yang sangat berbeda.
Mungkin karena itulah kemurahan hati dalam Buddhisme bukan hanya persoalan berapa banyak barang yang berpindah tangan. Dāna juga melatih cara kita memandang kepemilikan.
Sedikit demi sedikit kita belajar: tidak semua yang keluar dari tangan kita adalah kehilangan. Kadang justru ketika tangan terbuka, batin menjadi lebih ringan.

Catatan Bunbun

Kalau belum bisa ikut berbuat baik, setidaknya jangan memadamkan keinginan orang lain untuk berbuat baik.
Catatan Bunbun
Aku tidak ingin membaca cerita ini lalu sibuk mencari siapa di sekitar kita yang “seperti ibu Uttara”. Lebih berguna kalau aku mencari sedikit ibu Uttara di dalam diriku sendiri.
Apakah aku pernah merasa tidak nyaman melihat orang lain memberi? Apakah aku pernah mengejek seseorang karena menurutku ia terlalu baik? Atau ketika aku sendiri belum mampu membantu, bisakah setidaknya aku ikut senang melihat orang lain melakukan kebaikan?
Mungkin kita memang belum selalu mampu memberi banyak. Tetapi ada satu kemurahan hati yang bahkan tidak membutuhkan uang: jangan memadamkan keinginan orang lain untuk berbuat baik.
Kadang cukup berkata, “Bagus. Semoga kebaikanmu bermanfaat.” Itu saja mungkin sudah membuat dunia sedikit lebih ringan.
Tentang Sumber Kisah
Kisah ini berasal dari Uttaramātupetivatthu, kisah ke-10 dalam Ubbarīvagga dan Pv 22 dalam penomoran keseluruhan Petavatthu. Syair Pāli 331–340 memuat pertemuan di tepi Gangga, penderitaan selama 55 tahun, air yang berubah menjadi darah, Uttara sebagai putranya, pemberiannya kepada para samana, kemarahan sang ibu, dan hubungan tindakan tersebut dengan penderitaannya sebagai peta.
Referensi & Bacaan Lanjutan
- Petavatthu, Ubbarīvagga 2.10, Uttaramātupetivatthu, syair 331–340.
- Edisi Pāli Chaṭṭha Saṅgāyana Tipiṭaka.
- Petavatthu-aṭṭhakathā / Paramatthadīpanī untuk konteks komentar dan latar naratif.

Apa yang sedang kamu rasakan?
Pilih perasaanmu dan temukan cerita yang mungkin bisa menemani.
Bacaan ini hadir sebagai teman dan inspirasi, bukan pengganti bantuan profesional.

