Ringkasan Cerita
Alur Cerita dalam 3 Adegan
Gambaran singkat sebelum mengikuti kisah selengkapnya.

Pembuka
Seorang saudagar kaya menghabiskan hidupnya mengumpulkan dan menjaga harta. Apa yang tersisa ketika kematian datang dan semua yang dikumpulkan tidak bisa dibawa?

Perjalanan
Dalam Cūḷaseṭṭhipetavatthu, kekikiran berbuah pada kelahiran sebagai peta yang justru bergantung pada kebajikan orang lain. Kekayaan lama tidak dapat dipanggil kembali untuk mengakhiri penderitaannya.

Jawaban
Kisah ini menegaskan bahwa harta tidak salah, tetapi keterikatan yang menutup kemurahan hati membuatnya kehilangan fungsi terbaik. Yang dapat mengikuti seseorang dalam logika cerita adalah akibat perbuatan, bukan simpanan.
Daftar Isi
Dari Cūḷaseṭṭhipetavatthu, Petavatthu 2.8
Halo, aku Bunbun.
Bayangkan seseorang yang semasa hidup sangat kaya. Ia mempunyai lebih dari cukup untuk makan, lebih dari cukup untuk hidup nyaman, dan tentu saja cukup untuk berbagi. Tetapi ia memilih tidak melakukannya.
Kemudian suatu malam, setelah orang itu meninggal, seorang raja melihat sesosok makhluk kurus berjalan sendirian dalam kegelapan. Makhluk itu sedang menuju suatu tempat karena mendengar bahwa putrinya akan melakukan pemberian atas nama ayahnya.

Pertemuan di Tengah Malam
Seorang raja melihat sosok yang aneh: tubuhnya telanjang, kurus, dan tampak seperti seseorang yang telah lama tidak memperoleh makanan. Ia berjalan pada malam hari.
Raja menghentikannya dan bertanya ke mana ia hendak pergi malam-malam seperti itu. Raja bahkan menawarkan bantuan.

“Dahulu Aku Orang Kaya di Bārāṇasī”
Peta itu berkata bahwa dahulu ia adalah seorang perumah tangga kaya di Bārāṇasī. Walaupun mempunyai kekayaan, ia tidak suka memberi. Pikirannya melekat pada harta.
Setelah meninggal, katanya, ia terlahir dalam keadaan peta. Dahulu banyak yang bisa dimakan; sekarang ia kelaparan. Dahulu ia mempunyai sesuatu yang dapat diberikan; sekarang ia berharap mendapatkan pertolongan dari pemberian orang lain.

Ia Sedang Mencari Putrinya
Peta tersebut mempunyai seorang putri. Putrinya ingin melakukan pemberian dan mempersembahkan kebajikan itu bagi ayah dan kakeknya. Saat itu sang putri telah menyiapkan pemberian bagi para brahmana di Andhakavinda.
Mendengar hal tersebut, peta itu berharap memperoleh manfaat dan pergi ke sana.
Semasa hidup ia tidak mau membuka tangannya untuk orang lain. Setelah meninggal, ia justru pergi jauh karena berharap seseorang membuka tangan untuknya.
Catatan Bunbun
Raja Memintanya Kembali
Sebelum peta itu melanjutkan perjalanan, raja memintanya kembali setelah selesai. Raja ingin mengetahui apa yang terjadi dan mengatakan bahwa ia juga bersedia melakukan sesuatu untuk membantunya. Peta itu setuju.

Pemberian Itu Ternyata Tidak Memberinya Apa yang Diharapkan
Putrinya memang melakukan pemberian. Tetapi menurut kisah tersebut, mereka yang menikmati makanan itu bukan penerima yang layak bagi dakkhiṇā dalam kerangka cerita tersebut. Peta itu tidak memperoleh hasil yang diharapkannya.
Sesuai janjinya, ia kembali kepada sang raja.

“Berilah kepada Buddha dan Saṅgha”
Raja bertanya apa yang dapat diberikan agar peta itu memperoleh kesejahteraan. Peta meminta raja memberikan makanan, minuman, dan jubah kepada Buddha dan Saṅgha, kemudian mengarahkan kebajikan dari pemberian itu kepadanya.
Raja benar-benar melakukannya. Menurut syair kisah tersebut, raja memberikan dana dengan tangannya sendiri kepada Saṅgha, kemudian memberitahukan peristiwa itu kepada Tathāgata dan mengarahkan dakkhiṇā tersebut kepada peta.

Sosok Kurus Itu Tidak Ada Lagi
Peta itu kemudian muncul sekali lagi. Namun sosok yang sebelumnya telanjang dan kurus kini digambarkan sangat bercahaya dan berada dalam keadaan sejahtera.
Ia memperlihatkan hasil yang menurut kisah tersebut muncul dari pemberian yang telah dilakukan dan diarahkan kepadanya. Kemudian ia pergi dalam keadaan bahagia.
Barangkali Masalahnya Bukan Harta
Aku rasa mudah membaca cerita seperti ini lalu menyimpulkan bahwa orang kaya itu buruk. Tetapi itu bukan pelajaran yang menarik. Harta sendiri tidak pernah berkata, “Jangan berikan aku.” Kitalah yang memutuskan apa yang dilakukan dengannya.
Masalah Cūḷaseṭṭhi bukan sekadar bahwa ia memiliki banyak. Masalahnya adalah ketika ia mempunyai kesempatan untuk memberi, hatinya selalu berkata: “Jangan.”
Ada Ironi yang Sulit Kulupakan
Dahulu ia mempunyai makanan tetapi tidak memberi. Kemudian ia lapar. Dahulu ia mempunyai kekayaan dan melekat padanya. Kemudian seluruh kekayaan itu tertinggal. Dahulu orang lain mungkin berharap mendapatkan sesuatu darinya. Kemudian dialah yang berharap pada kebaikan orang lain.
Kemelekatan sering menjanjikan rasa aman, padahal sesuatu yang kita genggam terlalu erat suatu hari tetap harus dilepaskan.

Jangan Menunggu Sampai Punya Banyak
Kadang kita berkata, “Nanti kalau penghasilanku lebih besar, aku akan berbagi.” Atau, “Nanti kalau hidup sudah aman.” Masalahnya, kata cukup pandai sekali menjauh.
Latihan memberi tidak perlu menunggu kita menjadi kaya. Bisa dimulai dari makanan, waktu, tenaga, perhatian, pengetahuan, atau kesempatan membantu seseorang ketika memang mampu.
Bukan jumlahnya yang pertama-tama sedang dilatih. Tangannya. Bisakah tangan ini sesekali terbuka?
Catatan Bunbun

Yang Bunbun Catat
Ada satu adegan yang kubayangkan setelah selesai membaca cerita ini. Cūḷaseṭṭhi mungkin dahulu mempunyai rumah penuh barang. Tetapi ketika ia berjalan dalam gelap menemui putrinya, tidak ada satu pun barang itu bersamanya.
Aku tidak membaca kisah ini untuk menentukan nasib orang setelah meninggal. Petavatthu sedang berbicara dalam kerangka kamma dan kosmologi Buddhisnya sendiri.
Kalau semua yang berada di tangan kita suatu hari harus ditinggalkan, adakah sebagian yang bisa kita gunakan untuk kebaikan sebelum hari itu datang?
Catatan Bunbun
Tidak perlu menunggu kaya. Tidak perlu menunggu sempurna. Karena mungkin kekayaan yang benar-benar berguna bukan hanya sesuatu yang berhasil kita simpan, melainkan juga sesuatu yang, pada saat yang tepat, kita tidak takut untuk lepaskan.
Referensi & Bacaan Lanjutan
Sumber primer: Petavatthupāḷi, Ubbarivagga, Cūḷaseṭṭhipetavatthu (Pv 2.8 / Pv 20), syair 247–257.
Teks kanonik menyebut peta sebagai mantan perumah tangga kaya dari Bārāṇasī yang tidak memberi dan melekat pada materi; putrinya menyiapkan pemberian bagi ayah dan kakeknya; peta kemudian meminta raja melakukan pemberian berupa makanan, minuman, dan jubah kepada Buddha dan Saṅgha serta mengarahkannya kepadanya. Setelah itu ia digambarkan muncul kembali dalam keadaan sejahtera.
Catatan sumber: tradisi komentar memberi latar lebih luas dan mengidentifikasi raja sebagai Ajātasattu. Detail komentar perlu dibedakan dari apa yang dinyatakan langsung dalam syair kanonik.

Apa yang sedang kamu rasakan?
Pilih perasaanmu dan temukan cerita yang mungkin bisa menemani.
Bacaan ini hadir sebagai teman dan inspirasi, bukan pengganti bantuan profesional.

