Mengapa Kita Sulit Melepaskan Orang yang Telah Pergi?

Dari Goṇapetavatthu: kisah tentang duka, kasih sayang, dan belajar menerima kehilangan tanpa harus berhenti mencintai.

Bunbun
Daftar Isi

Halo, aku Bunbun.

Ada masa ketika kehilangan membuat kita ingin melakukan sesuatu—apa saja—asal orang yang kita cintai bisa kembali. Kita tahu kenyataannya tidak mungkin, tetapi hati sering membutuhkan waktu lebih lama daripada pikiran untuk menerimanya.

Sebuah kisah pendek dalam Petavatthu, bernama Goṇapetavatthu, memakai gambaran yang sangat sederhana: seekor sapi yang sudah mati, segenggam rumput hijau, seorang ayah yang berduka, dan seorang anak yang mencoba menyadarkannya.

Seorang ayah yang larut dalam duka setelah kehilangan orang yang dicintai

Seorang Anak Membawa Rumput kepada Sapi yang Mati

Dalam syair kanonik Goṇapetavatthu, seorang ayah melihat anaknya, Sujāta, memotong rumput hijau lalu menyodorkannya kepada seekor sapi tua yang sudah mati. Sang anak terus berkata seolah sapi itu masih hidup: “Makanlah, makanlah.”

Ayahnya tentu menganggap perbuatan itu tidak masuk akal. Makanan dan minuman tidak akan membuat sapi mati bangkit kembali.

Kalau sesuatu sudah mati, apakah tangisan, makanan, atau keinginan kita dapat membuatnya kembali seperti semula?

Refleksi dari Goṇapetavatthu
Sujāta membawa rumput dan air kepada seekor sapi yang telah mati

Lalu Sujāta Membalik Pertanyaannya

Sujāta menunjukkan bahwa kaki, kepala, tubuh, ekor, bahkan mata sapi itu masih dapat dilihat. Kalau begitu, katanya secara tajam, bukankah masih lebih masuk akal berharap sapi itu bangun kembali?

Kemudian ia mengingatkan ayahnya kepada orang yang sebenarnya sedang ditangisi: ayah dari sang ayah—kakek Sujāta—yang telah meninggal. Tubuhnya bahkan tidak lagi terlihat, tetapi sang ayah terus larut dalam kesedihan.

Perumpamaan itu akhirnya menembus sesuatu yang sebelumnya tidak dapat disentuh oleh nasihat biasa.

Sujāta membantu ayahnya memahami kenyataan kehilangan

Anak Panah yang Tercabut dari Hati

Syair berikutnya menggambarkan duka dengan sangat kuat. Sang ayah mengatakan bahwa sebelumnya dirinya seperti terbakar oleh api yang dituangi minyak samin. Setelah memahami perkataan anaknya, rasa panas itu seperti disiram air.

Ia menyebut dukanya sebagai anak panah yang tertancap di hati. Perkataan Sujāta seakan mencabut anak panah tersebut. Ia menjadi tenang dan tidak lagi menangis seperti sebelumnya.

Syair penutup kemudian memuji orang bijaksana yang memiliki belas kasih: mereka membantu orang lain keluar dari kesedihan, sebagaimana Sujāta membantu ayahnya.

Metafora anak panah duka yang perlahan tercabut dari hati

Tetapi Apakah Kita Tidak Boleh Bersedih?

Di sinilah aku merasa kisah ini perlu dibaca dengan lembut. Pesannya bukan bahwa orang yang menangis karena kehilangan adalah bodoh. Dan tentu bukan pula bahwa kita harus berkata kepada seseorang yang baru kehilangan orang tercinta, “Sudahlah, jangan sedih.”

Duka adalah bagian dari pengalaman manusia. Ketika seseorang penting bagi kita meninggal, yang hilang bukan hanya tubuhnya. Rutinitas berubah. Kursi yang biasa ditempatinya kosong. Suara yang biasa kita dengar tidak terdengar lagi. Ada rencana yang tidak akan pernah terjadi.

Dhamma tidak meminta kita berpura-pura bahwa semua itu tidak menyakitkan. Yang ditunjukkan kisah ini adalah sesuatu yang berbeda: ada saat ketika kesedihan berubah menjadi penolakan terhadap kenyataan—ketika hati terus meminta kehidupan mengembalikan sesuatu yang memang tidak dapat dikembalikan.

Menerima Bukan Berarti Melupakan

Aku suka membedakan dua hal: mengingat seseorang dan menuntut seseorang tetap ada.

Kita masih boleh mengingat wajahnya. Kita boleh tersenyum ketika menemukan benda peninggalannya. Kita boleh melakukan kebajikan sambil mengenangnya. Bahkan bertahun-tahun kemudian, mata mungkin masih berkaca-kaca ketika sebuah kenangan muncul.

Tetapi perlahan kita belajar satu hal yang sangat sulit: cinta tidak memberikan kita kuasa untuk membuat sesuatu menjadi kekal.

Menerima bahwa seseorang telah pergi tidak berarti kita berhenti mencintainya. Kita hanya berhenti meminta kehidupan mengembalikan sesuatu yang tidak dapat kembali.

Catatan Bunbun

Apa yang Sebenarnya Ada dalam Teks?

Bagian kanonik Goṇapetavatthu sangat ringkas: delapan syair, Pv 46–53. Di dalam syair itulah terdapat dialog tentang sapi mati, perbandingan dengan orang tua yang telah meninggal, gambaran duka sebagai api dan anak panah, serta penutup mengenai kebijaksanaan dan belas kasih.

Detail latar yang lebih panjang—misalnya kisah seorang perumah tangga di Sāvatthī yang sangat berduka setelah ayahnya meninggal dan kemudian didatangi Buddha—berasal dari komentar Petavatthu. Komentar menghubungkan keadaan tersebut dengan cerita Sujāta sebagai kisah masa lampau. Karena itu, keduanya sebaiknya tidak dicampur seolah seluruh detail tersebut terdapat dalam delapan syair kanonik.

Bunbun merenungkan kenangan dan belajar menerima kehilangan
Bunbun dan kucing

Yang Bunbun Catat

Aku tidak membaca kisah ini sebagai perintah untuk segera berhenti menangis.

Aku membacanya sebagai pengingat bahwa dalam hidup akan ada sesuatu yang sangat kita cintai tetapi tetap harus kita lepaskan. Kita mungkin tidak mampu memilih kapan kehilangan datang. Tetapi perlahan, dengan waktu, kebijaksanaan, dan bantuan orang-orang yang penuh kasih, kita dapat belajar hidup bersama kenyataan itu.

Mungkin itulah belas kasih Sujāta yang sebenarnya. Ia tidak menghidupkan kembali orang yang telah meninggal. Ia membantu seseorang yang masih hidup agar dapat kembali menjalani kehidupannya.

Referensi & Bacaan Lanjutan

Petavatthu, Uragavagga 1.8, Goṇapetavatthu (Pv 8), syair 46–53. Teks Pāli dapat diperiksa dalam edisi elektronik GRETIL dan katalog SuttaCentral. Untuk latar naratif yang lebih panjang, lihat komentar Paramatthadīpanī pada Goṇapetavatthu. Pembaca perlu membedakan syair kanonik dengan narasi komentar ketika menelusuri kisah ini.

Bunbun dan kucing menemani memilih bacaan
🐾

Apa yang sedang kamu rasakan?

Pilih perasaanmu dan temukan cerita yang mungkin bisa menemani.

Bacaan ini hadir sebagai teman dan inspirasi, bukan pengganti bantuan profesional.

Bagikan cerita ini Kalau terasa bermanfaat, kirimkan ke teman.
WA f @

Tombol ↗ membuka menu berbagi HP—Instagram, TikTok, DM, Messenger, dan aplikasi lain akan muncul bila didukung perangkat.

Share This Article