Kadang Kita Justru Paling Kasar kepada Orang yang Paling Dekat

Dari Nandāpetavatthu: kata-kata paling tajam sering diarahkan kepada orang terdekat, tetapi hubungan masih dapat dipulihkan melalui perubahan hati.

Bunbun

Ringkasan Cerita

Alur Cerita dalam 3 Adegan

Gambaran singkat sebelum mengikuti kisah selengkapnya.

Pembuka

Mengapa kita kadang justru paling kasar kepada orang yang paling dekat—seolah kedekatan membuat kata-kata tidak punya akibat?

Perjalanan

Nandā memperlakukan orang terdekatnya dengan keras, lalu dalam kisah Petavatthu mengalami keadaan menyedihkan setelah kematian. Pertemuan kembali membuat luka lama tidak bisa lagi dianggap sepele.

Jawaban

Pertolongan datang melalui kemurahan hati dan kebajikan yang dilakukan lalu dibagikan untuknya. Nandāpetavatthu mengingatkan bahwa kata-kata dalam rumah tangga juga membentuk sebab, dan kebaikan masih dapat membuka jalan perbaikan.

Daftar Isi

Dari Nandāpetavatthu, Petavatthu 2.4

Halo, aku Bunbun.

Kadang ada sesuatu yang aneh dalam hubungan manusia. Kepada orang yang baru dikenal, kita bisa sangat sopan. Kepada tamu, kita menjaga kata-kata. Kepada orang di luar rumah, kita bahkan masih sempat tersenyum meskipun sedang kesal.

Tetapi kepada orang yang hidup bersama kita setiap hari? Kadang justru merekalah yang menerima kata-kata paling tajam.

Ada sebuah kisah dalam Petavatthu tentang seorang perempuan bernama Nandā. Dan kisahnya dimulai setelah ia meninggal.

Perempuan yang Berdiri di Hadapan Nandasena

Suatu ketika Nandasena melihat sosok yang tidak tampak seperti manusia biasa. Tubuhnya buruk rupa dan kasar. Matanya tampak tidak wajar dan penampilannya menakutkan.

Nandasena memandangnya dan bertanya siapa dia. Jawaban makhluk itu pasti mengejutkannya.

Aku Nandā.

Nandāpetavatthu, disajikan dalam terjemahan ringkas

Ia kemudian mengatakan bahwa dahulu ia adalah istri Nandasena sendiri. Kini ia telah terlahir di alam peta.

Bayangkan pertemuan itu sebentar. Seseorang yang dahulu tinggal serumah dengannya, berbicara dengannya, mungkin makan bersamanya setiap hari—sekarang berdiri di hadapannya dalam keadaan yang sama sekali berbeda.

Nandasena kemudian menanyakan apa yang telah ia lakukan melalui tubuh, ucapan, atau pikiran sehingga mengalami keadaan seperti ini.

“Aku Kasar dalam Ucapan”

Nandā tidak menyalahkan siapa pun. Ia mengatakan bahwa dahulu dirinya pemarah. Ucapannya kasar. Dan terhadap Nandasena ia tidak menunjukkan penghormatan.

Dalam syair Pāli, pengakuannya sangat pendek. Tidak ada pembelaan panjang. Ia menghubungkan penderitaannya dengan ucapan buruk yang dahulu keluar dari dirinya sendiri.

Dalam dunia moral yang digambarkan Petavatthu, kata-kata bukan sesuatu yang hilang begitu saja setelah suara berhenti terdengar. Ada akibat yang mengikuti.

Nandasena Tidak Membalasnya

Nandasena menawarkan pakaian kepada Nandā sementara Bunbun menyaksikan dengan heran.

Bagian berikutnya justru membuat kisah ini lebih menarik. Nandasena bisa saja berkata, “Sekarang rasakan akibatnya.” Tetapi bukan itu yang ia lakukan.

Ia melihat keadaan mantan istrinya dan menawarkan sehelai pakaian. Ia bahkan mengajaknya pulang. Di rumah, katanya, tersedia pakaian, makanan, dan minuman. Nandā juga dapat melihat kembali keluarganya.

Ada sesuatu yang menyentuh di sini. Orang yang dahulu menerima kata-kata kasarnya sekarang justru menjadi orang yang mencoba menolongnya. Tetapi Nandā mengatakan bahwa cara itu tidak akan berhasil.

“Apa yang Kau Berikan Langsung Kepadaku Tidak Bermanfaat”

Nandā menjelaskan bahwa barang yang diberikan Nandasena langsung kepadanya tidak dapat ia nikmati begitu saja. Sebaliknya, ia meminta Nandasena memberikan makanan dan minuman kepada para samaṇa yang menjalankan kehidupan bajik dan memahami Dhamma.

Setelah itu, manfaat kebajikan dari pemberian tersebut diarahkan kepadanya.

Nandasena menyetujuinya. Ia kemudian memberikan berbagai kebutuhan: makanan, minuman, pakaian, tempat tinggal, payung, wewangian, karangan bunga, bahkan alas kaki disebut dalam rangkaian pemberian tersebut.

Setelah para penerima itu dijamu, manfaat dari pemberian tersebut dipersembahkan kepada Nandā. Menurut kisah Petavatthu, akibatnya segera terlihat.

Nandā Datang Kembali

Ketika Nandā muncul kembali di hadapan Nandasena, keadaannya telah berubah. Ia tidak lagi terlihat seperti makhluk yang pertama kali ditemuinya.

Kini ia bersih. Ia mengenakan pakaian yang indah dan perhiasan. Penampilannya bercahaya.

Nandasena sampai bertanya bagaimana ia memperoleh keadaan seperti itu. Nandā kembali memperkenalkan dirinya: “Aku Nandā. Dahulu aku adalah istrimu.”

Sekarang ia mengatakan bahwa melalui pemberian yang dilakukan Nandasena dan manfaat kebajikan yang diarahkan kepadanya, ia bergembira dan terbebas dari ketakutan.

Lalu perempuan yang dahulu berbicara kasar kepada suaminya itu justru mendoakan Nandasena. Ia berharap Nandasena berumur panjang bersama keluarganya. Ia juga mendorongnya untuk hidup sesuai Dhamma, memberi, dan membersihkan noda kekikiran.

Di situlah kisah Nandā berakhir.

Kata-Kata yang Paling Mudah Keluar di Rumah

Setelah membaca cerita ini, aku malah memikirkan sesuatu yang sangat sederhana. Mengapa kita terkadang lebih berhati-hati berbicara kepada orang asing daripada kepada keluarga sendiri?

Mungkin karena kita merasa orang rumah akan selalu ada. Kita berkata, “Ah, dia sudah tahu sifatku.” Atau, “Nanti juga baik lagi.” Lalu kemarahan datang. Suara meninggi. Satu kalimat keluar. Kemudian kita menyesal.

Yang membuat ucapan kasar berbahaya bukan hanya volumenya. Kadang satu kalimat pendek bisa tinggal di ingatan seseorang selama bertahun-tahun.

Tetapi Nandasena Juga Mengajarkan Sesuatu

Bagiku, tokoh menarik dalam cerita ini bukan hanya Nandā. Ada juga Nandasena.

Teks tidak menggambarkannya sedang menikmati penderitaan orang yang dahulu memperlakukannya dengan buruk. Ketika melihat Nandā kesusahan, reaksi pertamanya justru mencoba menolongnya.

Kita tidak harus membenarkan perlakuan buruk seseorang untuk tetap berharap agar ia terbebas dari penderitaan.

Catatan Bunbun

Dua hal itu bisa hidup bersama. Kita boleh mengatakan, “Yang kamu lakukan dahulu memang menyakitiku.” Dan pada saat yang sama, “Aku tetap tidak ingin melihatmu menderita.”

Tentang Pelimpahan Kebajikan

Nandāpetavatthu memberi gambaran yang cukup langsung mengenai praktik yang kemudian sangat dikenal dalam Buddhisme Theravāda. Nandasena melakukan pemberian kepada penerima yang dianggap bajik, kemudian mengarahkan manfaat kebajikan itu kepada Nandā.

Dalam cerita, perubahan keadaan Nandā terjadi setelah tindakan tersebut. Kita sebaiknya membiarkan teks mengatakan apa yang memang dikatakannya, tanpa menambahkan terlalu banyak teori ke dalam cerita.

Yang jelas, perhatian kepada mereka yang telah meninggal dalam Petavatthu bukan hanya diwujudkan dengan kesedihan. Ia diwujudkan melalui perbuatan baik.

Bunbun dan kucing

Yang Bunbun Catat

Aku awalnya mengira kisah Nandā akan menjadi cerita tentang hukuman. Ternyata setelah membacanya sampai selesai, yang paling tertinggal justru dua tindakan.

Yang pertama adalah mulut Nandā. Yang kedua adalah tangan Nandasena yang memberi. Satu pernah menciptakan penderitaan. Yang lain mencoba menguranginya.

Sebelum tidur malam ini mungkin kita tidak perlu melakukan sesuatu yang besar. Mungkin cukup bertanya: Hari ini, bagaimana aku berbicara kepada orang-orang yang paling dekat denganku?

Kalau tadi ada kata-kata yang terlalu keras, mungkin masih ada waktu untuk berkata: “Maaf. Tadi aku seharusnya tidak bicara seperti itu.”

Petavatthu berbicara tentang akibat yang dapat melampaui kematian. Tetapi selama kita masih hidup, kita mempunyai sesuatu yang sangat berharga: kesempatan untuk memperbaikinya sebelum terlambat.

Catatan Bunbun

Referensi & Bacaan Lanjutan

Sumber primer: Petavatthupāḷi, Ubbarivagga, Nandāpetavatthu (Pv 2.4; kisah ke-16), syair 168–185.

Dalam syair kanonik, Nandā mengidentifikasi dirinya sebagai mantan istri Nandasena, menghubungkan kelahirannya sebagai peta dengan kemarahan, ucapan kasar dan sikap tidak hormat; Nandasena menawarkan pakaian; Nandā meminta pemberian dilakukan kepada para samaṇa dan manfaatnya diarahkan kepadanya; setelah pemberian tersebut, keadaannya berubah.

Catatan sumber: latar cerita yang lebih rinci mengenai kehidupan Nandā sebelum meninggal muncul dalam komentar. Karena itu, detail komentar perlu dibedakan dari apa yang secara eksplisit terdapat dalam syair kanonik.

Bunbun dan kucing menemani memilih bacaan
🐾

Apa yang sedang kamu rasakan?

Pilih perasaanmu dan temukan cerita yang mungkin bisa menemani.

Bacaan ini hadir sebagai teman dan inspirasi, bukan pengganti bantuan profesional.

Bagikan cerita ini Kalau terasa bermanfaat, kirimkan ke teman.
WA f @

Tombol ↗ membuka menu berbagi HP—Instagram, TikTok, DM, Messenger, dan aplikasi lain akan muncul bila didukung perangkat.

Share This Article