Iri kepada Orang Lain, Menyakiti Diri Sendiri

Dari Mattāpetavatthu: iri hati dapat berubah menjadi tindakan yang menyakiti, tetapi belas kasih dan pemaafan masih dapat memutus lingkarannya.

Bunbun

Ringkasan Cerita

Alur Cerita dalam 3 Adegan

Gambaran singkat sebelum mengikuti kisah selengkapnya.

Pembuka

Kecemburuan kepada orang yang dekat dapat terasa seperti urusan batin pribadi. Tetapi apa yang terjadi ketika rasa iri itu berubah menjadi kata-kata dan tindakan yang sengaja menyakiti?

Perjalanan

Dalam Mattāpetavatthu, permusuhan membawa salah satu tokohnya pada penderitaan setelah kematian. Ia kemudian berhadapan lagi dengan orang yang pernah disakitinya dan membutuhkan pertolongan darinya.

Jawaban

Alih-alih membalas, Tissā memilih melakukan kebajikan dan membantu melalui pemberian serta pelimpahan jasa. Kisah ini mengubah hubungan lama yang penuh iri menjadi kesempatan untuk menghentikan rantai kebencian.

Daftar Isi

Halo, aku Bunbun.

Ada perasaan yang mungkin pernah mampir pada hampir semua orang. Kita melihat seseorang mendapatkan sesuatu yang sebenarnya juga kita inginkan: perhatian, keberhasilan, kasih sayang, atau pengakuan.

Mengapa dia?

Sebuah pertanyaan kecil yang kadang muncul ketika iri mulai tumbuh.

Dalam Petavatthu ada kisah tentang seorang perempuan bernama Mattā. Pada awalnya masalahnya terlihat seperti rasa iri. Tetapi rasa itu tidak berhenti menjadi perasaan—dan di situlah kisahnya berubah.

Mattā dan Tissā

Mattā dan Tissā berada dalam rumah tangga yang sama sebagai dua istri dari seorang lelaki. Mattā melihat Tissā sebagai saingan. Kecemburuan tumbuh menjadi kemarahan, lalu kemarahan mulai mencari jalan keluar.

Segenggam Debu

Suatu hari Tissā telah mandi dan mengenakan pakaian bersih. Ketika Mattā melihat suami mereka sedang berbicara dengan Tissā, kecemburuan muncul begitu kuat. Mattā mengambil debu lalu menaburkannya ke tubuh Tissā.

Perbuatannya mungkin berlangsung hanya beberapa detik. Tetapi itu bukan yang terakhir.

Tanaman yang Membuat Tubuh Gatal

Pada kesempatan lain keduanya pergi mencari tumbuhan. Tissā mengumpulkan tanaman yang berguna, sedangkan Mattā membawa bagian tanaman yang dapat menimbulkan rasa gatal. Diam-diam ia menaburkannya di tempat tidur Tissā.

Tidak ada pertengkaran besar. Tidak ada serangan terbuka. Justru itulah yang membuat bagian ini terasa dekat dengan kehidupan manusia: Mattā mulai menyakiti secara tersembunyi.

Bunbun menyaksikan Mattā menyembunyikan pakaian Tissā

Pakaian yang Disembunyikan

Kemudian ada sebuah pertemuan keluarga. Tissā dan suami mereka mendapat undangan, sedangkan Mattā tidak. Sekali lagi rasa iri itu muncul. Diam-diam Mattā mengambil pakaian Tissā dan menyembunyikannya.

Seolah-olah jika Tissā kehilangan sedikit kebahagiaan, Mattā akan merasa sedikit lebih baik. Tetapi ternyata tidak.

Bahkan Wewangian Tissā Pun Membuatnya Marah

Tissā memiliki wewangian, bunga, dan benda-benda yang digunakannya untuk berhias. Mattā mengambil benda-benda itu lalu membuangnya ke tempat yang kotor.

Mattā tidak lagi sekadar ingin bahagia. Ia mulai tidak ingin Tissā bahagia.

Catatan Bunbun

Ketika Mattā Meninggal

Waktu berlalu. Mattā meninggal. Dalam dunia yang digambarkan Petavatthu, ia kemudian terlahir sebagai seorang petī—peta perempuan yang mengalami penderitaan.

Suatu hari Tissā melihat sosok aneh: tubuhnya kurus, urat-uratnya terlihat, ia tidak mengenakan pakaian, dan keadaannya menyedihkan.

Tissā bertanya siapa dirinya. Jawabannya mengejutkan: perempuan itu mengaku sebagai Mattā, yang dahulu hidup bersamanya.

Masa Lalu Dibuka Kembali

Tissā mulai bertanya tentang keadaan Mattā. Satu demi satu, masa lalu mereka terbuka kembali: debu yang pernah dilemparkan, tanaman yang menimbulkan rasa gatal, pakaian yang diambil, dan barang-barang yang dirusak.

Perbuatan-perbuatan yang dahulu mungkin terasa seperti kemenangan kecil kini, dalam gambaran sebab-akibat moral Petavatthu, terlihat sama sekali berbeda.

Orang yang Pernah Disakitinya Justru Bertanya: Bagaimana Aku Bisa Membantumu?

Di sinilah cerita ini berubah. Tissā mempunyai banyak alasan untuk berkata, “Rasakan sendiri akibatnya.” Mattā pernah mengotorinya, membuat tubuhnya gatal, mengambil pakaiannya, dan merusak barang-barangnya.

Tetapi Tissā tidak membalas. Ia justru mencari cara untuk membantu Mattā.

Mattā meminta Tissā melakukan pemberian kepada para bhikkhu dan mengarahkan kebajikan itu kepadanya. Tissā kemudian memberikan makanan dan jubah kepada delapan bhikkhu—empat sebagai kelompok dan empat secara individual—dan mendedikasikan kebajikan tersebut kepada Mattā.

Iri kepada Orang Lain, Menyakiti Diri Sendiri — kisah Mattāpetavatthu

Mattā Datang Kembali

Setelah pemberian itu dilakukan, Mattā muncul kembali. Tetapi kali ini Tissā hampir tidak mengenalinya.

Sosok yang dahulu kurus, kotor, dan telanjang kini digambarkan bercahaya dan mengenakan pakaian indah. Mattā mengatakan bahwa ia bersukacita karena pemberian yang dilakukan Tissā.

Kemudian sesuatu yang indah terjadi. Perempuan yang dahulu tidak tahan melihat kebahagiaan Tissā sekarang justru mendoakan agar Tissā panjang umur dan hidup bahagia bersama keluarganya.

Permusuhan itu akhirnya berhenti bukan karena Mattā berhasil mengalahkan Tissā, tetapi karena Tissā memilih tidak membalasnya.

Catatan Bunbun

Iri Hati Mempunyai Tipuan yang Aneh

Setelah membaca kisah ini, aku merasa bagian paling menarik bukan penampilan peta Mattā, melainkan kehidupan Mattā sebelum meninggal. Ia ingin merasa lebih baik, tetapi setiap kali iri muncul, ia melakukan sesuatu yang membuat orang lain sedikit lebih menderita.

Masalahnya, penderitaan Tissā ternyata tidak membuat Mattā bahagia. Ia kembali iri, kemudian menyakiti lagi. Seperti mencoba memadamkan api dengan menuangkan minyak.

Ketika Kebahagiaan Orang Lain Terasa Mengganggu

Mungkin kita tidak pernah menaburkan tanaman gatal di tempat tidur seseorang. Semoga saja tidak. Tetapi bentuknya sekarang bisa jauh lebih kecil: seseorang berhasil, kita mencari kekurangannya; seseorang dipuji, kita merasa perlu mengatakan sesuatu yang membuat pujian itu berkurang.

Perasaan iri dapat muncul. Yang menentukan arah berikutnya adalah apa yang kita lakukan setelah menyadarinya.

Bunbun dan kucing

Yang Bunbun Catat

Ada satu bagian Mattāpetavatthu yang paling lama tinggal di kepalaku. Bukan ketika Mattā menjadi peta, melainkan ketika Tissā memilih membantu orang yang dahulu berkali-kali menyakitinya.

Tissā bisa membalas. Ia tidak melakukannya. Dan Mattā yang dahulu tidak tahan melihat kebahagiaan Tissā akhirnya justru mendoakan kebahagiaan perempuan itu.

Kadang kemenangan terbesar bukan ketika orang yang menyakiti kita akhirnya menderita. Mungkin kemenangan terbesar justru ketika penderitaannya tidak berhasil mengubah kita menjadi seperti dirinya.

Catatan Bunbun

Kalau suatu hari rasa iri kecil muncul di dalam hati kita, mungkin kita tidak perlu malu mengakuinya. Cukup melihatnya—sebelum ia mendapat kesempatan mengambil segenggam debu.

Referensi & Bacaan Lanjutan

Sumber primer: Petavatthupāḷi, Ubbarivagga, Mattāpetavatthu (Pv 2.3 / Pv 15), syair 134–167.

Syair kanonik memuat dialog Mattā dan Tissā mengenai kecemburuan, kemarahan, kekikiran dan tindakan Mattā; akibat yang dialaminya; serta pemberian yang kemudian dilakukan dan diarahkan kepadanya. Detail latar yang diperluas oleh komentar perlu dibedakan dari apa yang dinyatakan langsung dalam syair Pāli.

Bunbun dan kucing menemani memilih bacaan
🐾

Apa yang sedang kamu rasakan?

Pilih perasaanmu dan temukan cerita yang mungkin bisa menemani.

Bacaan ini hadir sebagai teman dan inspirasi, bukan pengganti bantuan profesional.

Bagikan cerita ini Kalau terasa bermanfaat, kirimkan ke teman.
WA f @

Tombol ↗ membuka menu berbagi HP—Instagram, TikTok, DM, Messenger, dan aplikasi lain akan muncul bila didukung perangkat.

Share This Article