Gagak dan Burung Hantu yang Tidak Pernah Berhenti Bermusuhan

Ketika permusuhan diwariskan begitu lama, tak ada lagi yang benar-benar ingat siapa yang memulainya—yang tersisa hanya keinginan untuk membalas.

Bunbun

Ringkasan Cerita

Alur Cerita dalam 3 Adegan

Gambaran singkat sebelum mengikuti kisah selengkapnya.

Pembuka

Gagak menyerang burung hantu pada siang hari, lalu burung hantu membalas pada malam hari. Ketika dendam terus diwariskan tanpa akhir yang jelas, apakah salah satu pihak masih mungkin keluar dari lingkaran itu?

Perjalanan

Seekor gagak berpura-pura disakiti dan diusir oleh kawanannya sendiri. Setelah diterima oleh burung-burung hantu, ia perlahan mengumpulkan ranting kering di tempat persembunyian mereka sambil menunggu kesempatan.

Jawaban

Gagak akhirnya membakar tempat persembunyian burung hantu dan memusnahkan lawannya. Teks kuno menekankan kewaspadaan terhadap musuh lama yang menyamar sebagai sahabat; kisahnya sekaligus memperlihatkan betapa keras akhir sebuah permusuhan yang terus dipelihara.

Daftar Isi

Halo, aku Bunbun.

Ada jenis pertengkaran yang masih mudah kita pahami. Seseorang melakukan sesuatu, orang lain marah, lalu keduanya bertengkar.

Tetapi ada juga permusuhan yang sudah berlangsung begitu lama sampai orang-orang di dalamnya mungkin tidak lagi benar-benar tahu siapa yang memulai.

Yang mereka tahu hanya satu: mereka adalah musuh kita.

Aku menemukan sebuah cerita sangat tua tentang keadaan seperti itu dalam Za Bao Zang Jing (《雜寶藏經》), sebuah kumpulan kisah Buddhis yang diterjemahkan ke dalam bahasa Tionghoa berabad-abad lalu.

Tokohnya bukan raja atau pangeran.

Melainkan dua kawanan burung: gagak dan burung hantu.

Gagak dan burung hantu hidup dalam permusuhan lama

Musuh pada Siang dan Malam

Menurut cerita itu, gagak dan burung hantu sudah saling membenci.

Gagak mempunyai keuntungan pada siang hari. Ketika matahari terang dan burung-burung hantu sulit melihat, kawanan gagak menyerang mereka.

Tetapi malam mengubah keadaan.

Dalam gelap, giliran gagak yang tidak berdaya. Burung-burung hantu keluar dan membalas serangan sebelumnya.

Siang menjadi waktu ketakutan bagi satu pihak. Malam menjadi waktu ketakutan bagi pihak lainnya.

Hari berganti malam, malam berganti hari, tetapi dendam mereka tidak pernah benar-benar selesai.

Siklus pembalasan gagak dan burung hantu antara siang dan malam

Seekor Gagak Mempunyai Rencana

Di antara kawanan gagak ada seekor gagak yang dianggap bijaksana.

Ia melihat satu kenyataan pahit: selama kedua kelompok terus saling membalas, tidak akan ada akhir.

Namun jalan yang ia pilih bukanlah berdamai.

Ia justru merancang tipu muslihat untuk menghancurkan lawannya terlebih dahulu.

Ia meminta kawanan gagak mematuki dirinya, mencabut bulu-bulunya, dan melukai kepalanya. Setelah tubuhnya tampak mengenaskan, ia pergi sendirian menuju tempat tinggal burung-burung hantu.

Di sana ia menangis seolah-olah baru saja diusir oleh bangsanya sendiri.

Gagak berpura-pura terluka dan meminta perlindungan kepada burung hantu

Musuh yang Datang Meminta Perlindungan

Ketika burung-burung hantu melihatnya, mereka curiga.

Beberapa memperingatkan bahwa gagak tetaplah bagian dari kelompok musuh dan tidak seharusnya dipercaya.

Tetapi ada yang merasa kasihan.

Gagak itu sendirian, terluka, bulunya rontok, dan tampaknya tidak mempunyai tempat untuk pulang. Akhirnya ia diterima dan diberi sisa makanan.

Hari demi hari berlalu.

Bulu gagak itu tumbuh kembali. Keadaannya pulih. Dan selama tinggal bersama burung-burung hantu, ia mulai membawa ranting kering dan rumput ke dalam tempat tinggal mereka.

Ketika ditanya untuk apa semua itu, ia mengatakan bahwa tempat tersebut dingin dan ranting-ranting itu akan membantu menahan hawa dingin.

Kelihatannya seperti bentuk terima kasih.

Padahal ia sedang menyiapkan sesuatu yang lain.

Gagak membawa ranting kering ke tempat tinggal burung hantu

Ketika Dendam Menemukan Kesempatannya

Suatu hari datang cuaca yang sangat dingin.

Burung-burung hantu berkumpul di dalam lubang tempat tinggal mereka untuk berlindung.

Gagak itu melihat kesempatannya.

Ia mengambil api, membakar tumpukan bahan kering yang selama ini diam-diam dikumpulkannya, dan api memenuhi tempat persembunyian burung-burung hantu.

Dalam teks, kisah itu berakhir keras: seluruh kawanan burung hantu musnah.

Tidak ada adegan kedua pihak berpelukan. Tidak ada perdamaian mendadak. Tidak ada akhir manis seperti dongeng anak-anak modern.

Dan justru bagian inilah yang membuatku berhenti cukup lama ketika membacanya.

Tipu daya gagak mencapai akhirnya di tempat tinggal burung hantu

Apa yang Sebenarnya Dikatakan Teks?

Kisah ini berjudul 烏梟報怨緣 (Wū Xiāo Bàoyuàn Yuán), kira-kira “Kisah Gagak dan Burung Hantu yang Saling Membalas Dendam”. Ia tercatat sebagai cerita ke-120 dalam jilid kesepuluh Za Bao Zang Jing (《雜寶藏經》, T203).

Za Bao Zang Jing adalah kumpulan besar cerita Buddhis yang dalam tradisi katalog Tionghoa dikaitkan dengan penerjemahan Jijiaye (吉迦夜) dan Tanyao (曇曜) pada masa Wei Utara. Koleksi ini berisi jātaka, avadāna, perumpamaan, dan kisah-kisah sebab-akibat yang kemudian memiliki pengaruh dalam sastra Buddhis Tiongkok.

Menariknya, bait penutup versi Tionghoa tidak mengatakan bahwa kedua pihak seharusnya berdamai. Ia justru memperingatkan agar seseorang tidak terlalu mudah mempercayai pihak yang memiliki permusuhan lama, menggunakan gagak yang menyamar sebagai contoh.

Karena itu, kalau aku menarik pelajaran tentang bahaya kebencian yang diwariskan, itu adalah refleksi pembacaan kita hari ini—bukan kalimat yang boleh disisipkan begitu saja seolah-olah merupakan pesan eksplisit kitab.

Bunbun merenungkan kisah gagak dan burung hantu
Bunbun dan kucing

Yang Bunbun Catat

Aku tidak tahu siapa yang pertama kali memulai permusuhan gagak dan burung hantu dalam cerita ini.

Teksnya pun tidak merasa perlu memberi tahu.

Mungkin justru di situ ada sesuatu yang terasa sangat manusiawi.

Kalau kebencian dipelihara cukup lama, alasan pertama perlahan menjadi tidak penting. Yang diwariskan bukan lagi ingatan tentang sebuah peristiwa, melainkan identitas: mereka musuh kita, karena sejak dulu memang begitu.

Kadang kemenangan memang mengakhiri sebuah pertempuran. Tetapi belum tentu ia menyembuhkan alasan yang membuat manusia ingin terus berperang.

Aku juga merasa cerita ini membuat satu pertanyaan menjadi sulit dihindari.

Jika kita menerima sebuah permusuhan dari orang-orang sebelum kita, apakah kita juga harus mewariskan permusuhan itu kepada orang-orang sesudah kita?

Mungkin ada saat ketika kita memang harus berhati-hati. Kepercayaan tidak selalu berarti menutup mata terhadap pengalaman masa lalu.

Tetapi berhati-hati dan memelihara kebencian bukanlah hal yang sama.

Itu yang ingin aku simpan dari kisah dua kawanan burung ini.

Catatan Kehati-hatian

Artikel ini menceritakan kembali kisah ke-120 Za Bao Zang Jing. Ia bukan Jātaka Pali bernomor tertentu yang dapat langsung disamakan dengan koleksi Jātaka Theravāda. Istilah “bijaksana” yang digunakan teks untuk gagak juga perlu dibaca dalam konteks strategi cerita kuno, bukan sebagai anjuran modern untuk membalas permusuhan dengan pemusnahan.

Perbedaan antara pesan eksplisit teks—berhati-hati terhadap musuh lama yang berpura-pura bersahabat—dan refleksi Bunbun mengenai siklus kebencian sengaja dipertahankan agar keduanya tidak tercampur.

Referensi & Bacaan Lanjutan

Chinese Buddhist Canon / CBETA
Za Bao Zang Jing 《雜寶藏經》, T203, jilid 10 — 烏梟報怨緣. Sumber primer untuk cerita gagak dan burung hantu.

Chinese Buddhist Canon Database
T0203 — 《雜寶藏經》. Data bibliografis dan katalog teks.

National Taiwan University — Digital Library of Buddhist Studies
Liang Li-ling, The Study of the Za Bao Zang Jing and Its Stories. Penelitian mengenai struktur, jenis cerita, dan pengaruh sastranya.

Fo Guang Shan Buddhist Electronic Texts
Pengantar dan katalog isi Za Bao Zang Jing, termasuk 烏梟報怨事緣.

Bunbun dan kucing menemani memilih bacaan
🐾

Apa yang sedang kamu rasakan?

Pilih perasaanmu dan temukan cerita yang mungkin bisa menemani.

Bacaan ini hadir sebagai teman dan inspirasi, bukan pengganti bantuan profesional.

Bagikan cerita ini Kalau terasa bermanfaat, kirimkan ke teman.
WA f @

Tombol ↗ membuka menu berbagi HP—Instagram, TikTok, DM, Messenger, dan aplikasi lain akan muncul bila didukung perangkat.

Share This Article