Daftar Isi
Halo, aku Bunbun.
Ada cerita yang terasa hangat sejak awal. Ada juga cerita yang membuatku berhenti beberapa kali karena rasanya tidak mudah untuk diterima. Kisah Fǎhù adalah yang kedua.
Ia bukan cerita tentang seorang anak yang berhasil mengubah hati ibunya. Bukan pula kisah keluarga yang berakhir dengan pelukan dan penyesalan. Justru karena akhirnya begitu pahit, aku merasa ada satu pertanyaan yang tertinggal: ketika kebencian datang dari orang yang sangat dekat dengan kita, apakah kita harus ikut menjadi penuh kebencian?

Seorang Putra Bernama Fǎhù
Dalam Za Bao Zang Jing 《雜寶藏經》, diceritakan seorang raja bernama Brahmadatta. Ia mempunyai seorang putra bernama Fǎhù 法護.
Teks menggambarkan Fǎhù sebagai anak yang cerdas, penuh kasih, dan sedang belajar kepada seorang guru. Tidak banyak kisah masa kecilnya diberikan. Kita hanya diberi gambaran singkat tentang seorang putra kerajaan yang tampaknya tidak sedang terlibat dalam perselisihan apa pun.
Lalu, sesuatu terjadi di istana.

Ucapan yang Lahir dari Kemarahan
Suatu hari Raja Brahmadatta sedang bersenang-senang di taman bersama para perempuan istana. Sisa minuman kemudian dikirimkan kepada permaisuri.
Sang permaisuri merasa terhina.
Dalam kemarahannya ia mengucapkan kata-kata yang mengerikan: daripada meminum sisa minuman itu, ia lebih memilih darah Fǎhù.
Kalimat tersebut sampai kepada raja.
Dan di sinilah cerita berubah sangat gelap. Alih-alih membiarkan kemarahan itu berlalu sebagai ucapan sesaat, raja memerintahkan agar Fǎhù dipanggil pulang dari tempatnya belajar.

“Kesalahan Apa yang Kulakukan?”
Fǎhù datang memenuhi panggilan ayahnya tanpa mengetahui apa yang sedang menunggunya.
Ketika mengetahui bahwa nyawanya terancam, ia kebingungan. Ia mengatakan bahwa dirinya tidak melakukan kesalahan dan mengingatkan bahwa ia adalah putra tunggal sang raja.
Raja menjawab bahwa kehendak itu berasal dari ibunya. Jika Fǎhù mampu meminta pengampunan dan membuat ibunya berubah hati, ia tidak akan dibunuh.
Aku membayangkan bagian ini cukup lama.
Seorang anak diminta meminta maaf, padahal ia sendiri tidak tahu kesalahan apa yang telah dilakukannya.
Namun Fǎhù tetap pergi menemui ibunya.

Permohonan yang Tidak Diterima
Di hadapan ibunya, Fǎhù kembali mengatakan bahwa ia tidak bersalah. Ia memohon agar sang ibu mengurungkan niatnya.
Tetapi permohonannya tidak diterima.
Za Bao Zang Jing menceritakan akhir peristiwa ini dengan sangat singkat dan keras. Fǎhù akhirnya dibunuh.
Aku tidak merasa kita perlu membayangkan kekerasannya lebih jauh. Teksnya sendiri sudah cukup membuat cerita ini terasa berat.

Ternyata Cerita Ini Belum Selesai
Setelah kisah itu diceritakan, barulah teks menjelaskan mengapa Buddha mengingatnya.
Pada masa Buddha, Devadatta kembali bersikap kasar kepada-Nya. Buddha mengatakan bahwa Ia tetap memiliki pikiran penuh kasih dan tidak menyimpan niat jahat terhadap Devadatta.
Para bhikkhu heran: bagaimana mungkin seseorang tetap tidak membenci ketika berulang kali diperlakukan dengan buruk?
Buddha kemudian menceritakan kehidupan lampau tadi.
Dalam identifikasi yang diberikan teks, Fǎhù adalah kehidupan lampau Buddha. Tokoh-tokoh lain dalam cerita juga dihubungkan dengan orang-orang pada masa Buddha. Poin yang ditekankan sangat jelas: bahkan ketika Fǎhù menghadapi kematian, teks mengatakan bahwa ia tidak membangkitkan kebencian.

Tidak Membenci Bukan Berarti Membiarkan Diri Disakiti
Bagian inilah yang menurutku perlu kita baca dengan sangat hati-hati.
Kisah Fǎhù berasal dari dunia cerita Buddhis kuno. Ia bukan petunjuk bahwa seorang anak harus menerima semua tindakan orang tuanya. Ia juga tidak mengatakan bahwa orang yang mengalami kekerasan harus tetap tinggal dalam keadaan yang membahayakan dirinya.
Tidak membalas kebencian dengan kebencian bukan berarti membiarkan orang lain terus menyakiti kita. Kita boleh menjaga jarak, mencari pertolongan, dan melindungi diri—tanpa harus memelihara keinginan untuk membalas luka dengan luka.
Ada perbedaan besar antara menjaga diri dan membenci.
Kita dapat mengatakan “cukup”. Kita dapat pergi dari keadaan yang berbahaya. Kita dapat menetapkan batas. Tetapi setelah semuanya itu, masih ada pekerjaan lain yang jauh lebih sunyi: bagaimana agar luka tersebut tidak terus hidup di dalam diri kita dan perlahan membuat kita ingin melukai orang lain.

Sebuah Cerita Buddhis yang Sampai ke Tiongkok
Kisah Fǎhù terdapat sebagai cerita ke-17 dalam Za Bao Zang Jing 《雜寶藏經》, nomor T203 dalam Taishō Canon. Koleksi ini diterjemahkan ke bahasa Tionghoa pada masa Wei Utara dan secara tradisional dikaitkan dengan Jijiaye 吉迦夜 dan Tanyao 曇曜.
Jadi Fǎhù bukanlah seorang anak Tiongkok yang kisah sejarahnya dicatat oleh penulis istana. Ia adalah tokoh dalam cerita kehidupan lampau Buddhis yang bertahan melalui sebuah koleksi berbahasa Tionghoa.
Ini penting karena cerita-cerita Buddhis mengenai hubungan anak dan orang tua kemudian bertemu dengan dunia budaya Tiongkok yang juga sangat menekankan bakti keluarga. Dalam manuskrip dan seni Dunhuang, tema bakti Buddhis berkembang dalam berbagai bentuk. Tetapi kemiripan motif tidak otomatis berarti bahwa satu cerita tertentu langsung berubah menjadi legenda Tionghoa tertentu. Di bagian ini kita perlu membedakan apa yang dapat dibuktikan dari apa yang hanya mungkin berhubungan.

Yang Bunbun Catat
Aku tidak tahu apakah aku mampu setenang Fǎhù kalau berada dalam keadaan seperti itu.
Dan mungkin memang bukan itu yang diminta cerita ini dariku.
Yang terasa dekat justru pertanyaan yang lebih kecil: ketika seseorang menyakitiku, berapa lama aku akan membawa orang itu di dalam kepalaku? Berapa lama kata-katanya kubiarkan menentukan suasana hatiku? Dan apakah tanpa sadar aku mulai menjadi keras kepada orang lain karena luka yang sebenarnya berasal dari tempat lain?
Mungkin memaafkan dan tidak membenci bukan hadiah yang pertama-tama kita berikan kepada orang yang melukai kita.
Mungkin itu adalah cara agar luka tersebut tidak mengambil lebih banyak bagian dari hidup kita.
Catatan Kehati-hatian
Artikel ini menceritakan kembali kisah Fǎhù berdasarkan Za Bao Zang Jing. Cerita mengandung kekerasan dalam keluarga dan harus dibaca sebagai narasi moral Buddhis kuno, bukan pedoman untuk bertahan dalam hubungan yang membahayakan. Identifikasi tokoh sebagai kehidupan lampau Buddha merupakan bagian dari kerangka naratif teks tersebut.
Referensi & Bacaan Lanjutan
《雜寶藏經》 T203,卷二 — Chinese Buddhist Electronic Text Association edition
Kisah ke-17, 梵摩達夫人妒忌傷子法護緣, sumber primer untuk cerita Fǎhù.
Daftar isi 《雜寶藏經》 T203
Untuk melihat posisi kisah Fǎhù di antara kumpulan cerita dalam Za Bao Zang Jing.
Guang Xing — A Study of the Apocryphal Sūtra: Fumu Enzhong Jing
Kajian akademis mengenai perkembangan teks dan tema bakti kepada orang tua dalam Buddhisme Tiongkok.
Kajian teks dan gambar bakti Buddhis Dunhuang
Memberikan konteks lebih luas mengenai perkembangan narasi bakti Buddhis dalam manuskrip dan seni Dunhuang.

Apa yang sedang kamu rasakan?
Pilih perasaanmu dan temukan cerita yang mungkin bisa menemani.
Bacaan ini hadir sebagai teman dan inspirasi, bukan pengganti bantuan profesional.

