Mengapa Sepatu Dianggap Bukan Hadiah yang Baik?

Sepasang sepatu bisa berarti perhatian—tetapi dalam tradisi tertentu, juga terdengar seperti pertanda perpisahan.

Bunbun
Daftar Isi

Halo, aku Bunbun. Bayangkan seseorang memperhatikan ukuran kakimu, memilih model yang menurutnya cocok, lalu membungkus sepasang sepatu dengan rapi. Secara logika, itu hadiah yang sangat personal. Ada perhatian, usaha, dan harapan agar langkahmu terasa lebih nyaman.

Tetapi di sebagian keluarga Tionghoa, kotak itu mungkin disambut dengan senyum yang sedikit tertahan. Bukan karena sepatunya jelek. Bukan pula karena penerimanya tidak menghargai niat baik. Ada sebuah ingatan budaya yang ikut terbuka bersama tutup kotak: sepatu dipercaya bukan hadiah yang baik.

Seorang kerabat memberikan kotak sepatu kepada Bunbun sementara kucing memperhatikan pita hadiah
Hadiah yang tampak praktis dapat membawa gema budaya yang tidak terlihat.

Aku jadi penasaran: dari mana anggapan itu berasal? Ketika ditelusuri, jawabannya ternyata bukan satu larangan kuno yang mudah diberi tanggal. Ia lebih menyerupai simpul dari permainan bunyi, simbol langkah, hubungan antarmanusia, dan kebiasaan keluarga. Bahkan, dalam konteks lain, sepatu justru bisa menjadi benda yang membawa doa baik.

Ketika bunyi sebuah kata ikut membawa makna

Penjelasan yang paling sering muncul berangkat dari bahasa Mandarin. Kata untuk sepatu, (xié), berbunyi sama dengan (xié), kata yang dapat berarti jahat, menyimpang, atau pengaruh yang tidak baik. Penerbit bahasa Mandarin Cheng & Tsui mencatat homofon inilah yang membuat sepatu kerap dimasukkan ke daftar hadiah yang dianggap kurang beruntung.

Bagi orang yang tumbuh dalam bahasa Indonesia, hubungan itu mungkin terasa aneh. Sepatu ya sepatu; bunyinya tidak mengubah kegunaannya. Namun dalam kebudayaan Tionghoa, permainan bunyi bukan sekadar lelucon. Ia sering menjadi cara menyampaikan harapan—atau menghindari bayangan buruk—melalui benda sehari-hari.

Infografis kata Mandarin untuk sepatu, makna buruk, dan selaras yang memiliki bunyi serupa
Satu bunyi dapat membuka lebih dari satu asosiasi: buruk, sepatu, atau selaras.

Cara membaca bagan ini

dan sama-sama dibaca xié dalam Mandarin standar, sehingga muncul asosiasi kurang baik. Tetapi bunyi yang serupa juga hadir pada , yang berkaitan dengan keselarasan. Artinya, simbol budaya tidak bekerja seperti rumus matematika. Konteks menentukan makna mana yang dipilih.

Sepatu selalu membawa seseorang ke suatu tempat

Lapisan kedua lebih mudah dirasakan bahkan tanpa memahami Mandarin. Sepatu adalah benda untuk berjalan. Ketika diberikan kepada pasangan, sahabat, atau orang yang dekat, ia bisa dibaca secara simbolis sebagai bantuan untuk berjalan pergi.

Dari sini muncul versi yang sangat populer: memberi sepatu berarti mendorong penerimanya menjauh, meninggalkan hubungan, atau menempuh jalan terpisah. South China Morning Post juga menempatkan asosiasi sepatu ini dalam tradisi pantangan hadiah Tionghoa, berdampingan dengan jam dan pir yang memiliki permainan bunyi masing-masing.

Kotak sepatu terbuka di dekat dua jalan yang bercabang sebagai simbol perpisahan
Sepatu menjadi lambang perjalanan; dari sanalah bayangan “berjalan menjauh” muncul.

Dalam sebuah hadiah, yang berpindah bukan hanya benda. Kadang-kadang, sebuah hubungan ikut membaca pesan yang menempel padanya.

Tentu, penafsiran ini tidak otomatis hidup dalam pikiran setiap orang Tionghoa. Ada keluarga yang menganggapnya penting, ada yang hanya mengingatnya saat Tahun Baru atau pernikahan, dan ada pula yang tidak memedulikannya sama sekali. Tradisi bergerak bersama bahasa, daerah, generasi, dan pengalaman keluarga.

Apakah pantangan ini sama dengan feng shui?

Ini bagian yang sering tercampur. Pantangan memberi sepatu lebih tepat dipahami sebagai etiket hadiah dan kepercayaan rakyat yang bertumpu pada simbol serta bahasa. Ia tidak perlu disebut sebagai aturan baku feng shui, apalagi ajaran agama.

Feng shui memiliki kerangka tersendiri mengenai hubungan manusia dengan ruang, arah, bentuk, dan aliran qi. Sementara itu, larangan hadiah seperti sepatu, jam, payung, atau pir lebih sering dijelaskan lewat homofon dan bayangan sosial. Keduanya dapat bertemu dalam percakapan sehari-hari tentang “keberuntungan”, tetapi asal logikanya tidak selalu sama.

Hal serupa pernah kutemukan saat menulis tentang sumpit yang ditancapkan tegak di nasi dan kebiasaan mengetuk piring kosong dengan sendok. Benda sehari-hari menjadi sensitif bukan karena bendanya berbahaya, melainkan karena bentuk, bunyi, atau gerakannya mengingatkan orang pada konteks lain.

Jalan tengah: berikan sebuah koin

Lalu bagaimana jika seseorang sudah telanjur menghadiahkan sepatu? Apakah hubungan harus langsung waswas setiap melihat tali sepatu?

Untungnya, tradisi juga mengenal jalan keluar yang sangat manusiawi. Penerima dapat memberikan sejumlah uang kecil kepada si pemberi. Secara simbolis, sepatu itu tidak lagi diterima sebagai hadiah; ia dianggap “dibeli”. Cara menukar hadiah dengan pembayaran simbolis juga digunakan untuk beberapa benda lain yang dianggap sensitif.

Bunbun memberikan koin kecil kepada pemberi sepatu sebagai simbol bahwa sepatu tersebut dibeli
Sebuah koin kecil mengubah status benda: bukan hadiah, melainkan pembelian simbolis.

Aku menyukai cara ini. Bukan karena satu koin memiliki kekuatan gaib untuk mengubah masa depan, melainkan karena ia menunjukkan bagaimana keluarga merawat dua hal sekaligus: niat baik pemberi dan ketenangan hati penerima. Tradisi tidak selalu harus menjadi tembok. Kadang ia menyediakan pintu kecil agar semua orang tetap nyaman.

Namun sepatu tidak selalu membawa makna buruk

Di sinilah cerita menjadi lebih menarik. Jika sepatu memang selalu dianggap buruk, mengapa dalam kebudayaan Tionghoa kita menemukan sepatu anak berbentuk kepala harimau, sepatu pengantin bersulam, dan beragam alas kaki upacara yang justru sarat doa baik?

Sepatu kepala harimau: perlindungan bagi anak

Dalam tradisi kerajinan rakyat, anak-anak dapat dipakaikan sepatu dengan wajah harimau. Harimau dipandang memiliki kekuatan untuk menghalau bahaya dan melindungi si kecil. British Museum memperlihatkan bagaimana citra harimau hadir pada pakaian dan sepatu anak sebagai bentuk perlindungan simbolis.

Sepasang sepatu anak tradisional Tiongkok berbentuk kepala harimau sedang disulam dengan tangan
Pada sepatu kepala harimau, alas kaki justru menjadi pembawa harapan akan keberanian dan perlindungan.

Di sini sepatu bukan isyarat agar anak pergi. Ia adalah benda yang menemani langkah pertama, membawa perhatian orang tua dan keterampilan tangan para perempuan dalam keluarga. Makna berasal dari keseluruhan konteks—siapa yang memberi, kepada siapa, kapan, dan dengan simbol apa.

Sepasang sepatu dalam pernikahan

Sepatu juga memiliki tempat penting dalam sejumlah adat pernikahan Tionghoa. Sepasang alas kaki dapat melambangkan pasangan yang berjalan bersama. Bunyi xié pun dapat diasosiasikan bukan dengan 邪 yang buruk, melainkan dengan —keselarasan. Dalam tradisi tertentu, sepatu bersulam merah membawa motif bunga, burung, naga, phoenix, atau lambang kebahagiaan ganda.

Sepatu pengantin merah bersulam dalam persiapan pernikahan tradisional Tionghoa
Dalam konteks pernikahan, sepasang sepatu dapat berbicara tentang kebersamaan dan keharmonisan.

Ini bukan kontradiksi yang harus “dibereskan”. Justru begitulah simbol budaya bekerja. Benda yang sama dapat menampung makna berbeda, bahkan berlawanan. Sepatu sebagai hadiah kasual mungkin dihindari oleh sebagian orang, sedangkan sepatu ritual atau sepatu yang dibuat untuk seorang anak dapat dipenuhi doa baik.

Catatan Bunbun

Catatan kecil: Bunbun sedang menuliskan bagian yang paling berkesan dari kisah ini. Kamu boleh berhenti sejenak dan mencatat hal yang ingin kamu ingat.

Bunbun menulis catatan bersama kucing krem oranye

Kalau ingin memberi sepatu, aku akan melihat orangnya lebih dulu. Apakah ia memang membutuhkan? Apakah keluarganya memegang pantangan ini? Kalau ragu, bertanya pelan-pelan jauh lebih baik daripada menganggap tradisi itu pasti benar atau pasti tidak masuk akal. Dan bila sepatunya sudah terlanjur dibeli, satu koin kecil sering cukup menjadi jalan tengah—asal jangan sampai kucingku yang mengambilnya lebih dulu.

Bunbun dan kucing

Yang Bunbun catat

Setelah menelusuri cerita ini, aku tidak lagi melihat pantangan hadiah sepatu sebagai daftar larangan yang kaku. Aku melihatnya sebagai cara lama manusia menjaga hubungan melalui bahasa. Orang takut sebuah pemberian mengandung pesan yang tidak mereka maksudkan, maka lahirlah kehati-hatian.

Yang terpenting bukan memutuskan siapa yang “modern” dan siapa yang “takhayul”. Yang lebih berguna adalah memahami bahwa hadiah hidup di antara dua hati. Niat pemberi penting, tetapi rasa penerima juga pantas dihormati.

Barangkali hadiah terbaik bukan selalu benda yang paling mahal atau paling berguna. Kadang hadiah terbaik adalah benda yang menunjukkan bahwa kita mengenal orang yang menerimanya—termasuk cerita, kebiasaan, dan kekhawatiran kecil yang ikut berjalan bersamanya.

Catatan Kehati-hatian

Pantangan memberi sepatu berbeda menurut daerah, dialek, keluarga, generasi, dan konteks. Tidak ditemukan satu sumber klasik tunggal yang dapat dipakai untuk menetapkan asalnya secara pasti. Penjelasan homofon dan simbol “berjalan pergi” sebaiknya dipahami sebagai tradisi populer yang hidup dan berubah, bukan aturan yang mewakili semua orang Tionghoa.

Referensi & Bacaan Lanjutan

Jejak bacaan: Daftar berikut membantu pembaca menelusuri sumber, terjemahan, dan bacaan lanjutan yang berkaitan dengan kisah ini.

Bunbun menunjukkan buku referensi bersama kucing krem oranye
Bunbun dan kucing menemani memilih bacaan
🐾

Apa yang sedang kamu rasakan?

Pilih perasaanmu dan temukan cerita yang mungkin bisa menemani.

Bacaan ini hadir sebagai teman dan inspirasi, bukan pengganti bantuan profesional.

Bagikan cerita ini Kalau terasa bermanfaat, kirimkan ke teman.
WA f @

Tombol ↗ membuka menu berbagi HP—Instagram, TikTok, DM, Messenger, dan aplikasi lain akan muncul bila didukung perangkat.

Share This Article