Burung yang Tidak Mau Meninggalkan Pohon Tua: Kisah Mahāsuka Jātaka

Tentang kesetiaan yang tidak pergi hanya karena sahabat lama sudah tidak lagi berbuah.

Bunbun

Ringkasan Cerita

Alur Cerita dalam 3 Adegan

Gambaran singkat sebelum mengikuti kisah selengkapnya.

Pembuka

Ketika pohon tua yang selama bertahun-tahun memberi rumah dan makanan akhirnya kering, apakah kesetiaan masih berarti jika sudah tidak ada lagi yang bisa diperoleh?

Perjalanan

Burung nuri Mahāsuka menolak meninggalkan pohon yang menua, meskipun burung-burung lain pergi mencari tempat yang lebih subur. Ia tetap tinggal karena mengingat kebaikan yang pernah diterimanya.

Jawaban

Kesetiaan Mahāsuka menggugah makhluk surgawi yang mengujinya, dan pohon itu kembali subur dalam kisah. Pesannya sederhana: rasa terima kasih tidak hanya muncul selama kita masih mendapat keuntungan.

Daftar Isi

Ada jenis kesetiaan yang mudah dipuji ketika semuanya masih indah. Ketika pohon masih rindang, buah masih manis, dan dahan masih penuh burung, siapa pun bisa berkata, “Aku akan tinggal di sini.”

Tetapi kisah ini bertanya dengan cara yang lebih pelan: bagaimana kalau pohon itu menjadi tua? Bagaimana kalau buahnya habis, daunnya rontok, dan semua burung lain mulai pergi mencari tempat yang lebih subur?

Di dalam tradisi Jataka, kisah itu dikenal sebagai Mahāsuka Jātaka, Jataka tentang burung nuri agung. Tokohnya sederhana: seekor burung nuri, sebuah pohon ara tua, dan Sakka yang datang untuk menguji alasan di balik kesetiaan itu.

Pohon ara tua yang subur dengan burung nuri, Bunbun, dan kucing di bawahnya
Dulu, pohon itu subur. Ia memberi buah, tempat berteduh, dan rumah bagi banyak burung.

Ketika Pohon Itu Masih Berbuah

Pada masa lalu, Bodhisatta terlahir sebagai raja burung nuri. Ia tinggal di sebuah pohon ara yang besar. Pohon itu bukan sekadar tempat singgah. Dari sanalah ia mendapat buah, naungan, dan tempat hidup sejak lama.

Aku membayangkan pohon itu seperti sahabat lama. Tidak banyak bicara, tetapi selalu hadir. Saat panas, ia memberi teduh. Saat lapar, ia memberi buah. Saat malam datang, dahan-dahannya menjadi tempat pulang.

Selama pohon itu subur, banyak burung datang. Mereka berkicau, makan, dan menikmati semua yang diberikan pohon itu. Dalam hidup, kadang kita juga melihat hal yang sama: ketika seseorang masih kuat, berguna, dan berbuah, banyak yang berada di dekatnya.

Ketika Semua Mulai Pergi

Waktu berjalan. Pohon ara itu menjadi tua. Buahnya berkurang. Daunnya menipis. Dahan yang dulu lebat mulai kering. Burung-burung lain pun pergi mencari pohon baru yang lebih hijau.

Mereka tidak sepenuhnya jahat. Secara naluri, burung mencari makan dan tempat aman. Tetapi kisah ini menyorot satu burung yang berbeda: raja burung nuri itu tidak pergi.

Burung nuri hijau tetap berada di pohon ara tua yang mengering sementara burung lain terbang pergi
Ketika pohon tua mengering, burung-burung lain pergi. Sang nuri tetap tinggal.

Ia tetap berada di pohon tua itu. Ia tidak tinggal karena tidak tahu ada pohon lain. Ia tinggal karena ingat. Pohon itu pernah menjadi tempat hidupnya. Pohon itu pernah memberinya buah. Pohon itu pernah menaunginya.

Kesetiaan dalam kisah ini bukan kesetiaan buta. Ia adalah ingatan terhadap jasa.

Sakka Datang Bertanya

Dalam Jataka, Sakka, raja para dewa, melihat burung nuri itu. Ia heran mengapa burung itu tetap tinggal di pohon yang sudah tidak lagi berbuah. Maka Sakka datang dan bertanya: mengapa engkau tidak pergi seperti burung-burung lain?

Jawaban sang nuri sangat indah. Ia tidak berkata bahwa pohon itu masih berguna. Ia juga tidak mengeluh bahwa hidupnya sekarang lebih sulit. Ia berkata, kurang lebih, bahwa sejak muda ia hidup dekat dengan pohon itu. Pohon itu pernah menjadi sahabatnya dalam suka dan duka. Karena itu ia tidak tega meninggalkannya hanya karena pohon itu sudah tua dan kering.

Burung nuri hijau tinggal di dekat lubang pohon ara tua sambil mengingat jasa pohon itu
Sang nuri tidak melihat pohon tua itu dari apa yang masih bisa diberikan, tetapi dari jasa yang pernah diterimanya.

Bagian ini sederhana, tetapi menusuk halus. Kadang kita menilai orang, tempat, atau hubungan hanya dari manfaat yang masih bisa kita ambil hari ini. Kalau tidak lagi menguntungkan, kita menjauh. Kisah burung nuri mengingatkan bahwa kebajikan tidak selalu bertanya, “Apa yang masih bisa aku dapat?” Kadang ia bertanya, “Apa yang pernah aku terima, dan bagaimana aku membalasnya dengan pantas?”

Sakka atau Indra muncul dan bertanya kepada burung nuri mengapa ia tidak meninggalkan pohon tua
Sakka datang bukan untuk menghukum, tetapi untuk menguji kedalaman hati sang nuri.

Pohon yang Kembali Hidup

Sakka tersentuh oleh jawaban itu. Ia menawarkan anugerah kepada sang nuri. Menariknya, sang nuri tidak meminta pohon baru untuk dirinya. Ia tidak meminta makanan yang lebih banyak. Ia meminta agar pohon tua itu kembali hidup, kembali berbuah, dan kembali dapat menolong makhluk lain.

Di sinilah cerita berubah menjadi pemulihan. Pohon yang kering menjadi segar kembali. Daunnya tumbuh. Buahnya muncul. Burung-burung kembali datang.

Pohon ara tua kembali hidup dan berbuah setelah Sakka mengabulkan harapan burung nuri
Keinginan sang nuri bukan untuk dirinya sendiri, melainkan agar sahabat lamanya kembali hidup dan memberi manfaat.

Bagi Bunbun, bagian ini seperti menutup lingkaran. Burung nuri tinggal karena ingat jasa. Ketika diberi kesempatan meminta, ia tetap memikirkan sahabat lamanya. Kesetiaan itu tidak berhenti sebagai perasaan manis, tetapi berubah menjadi doa dan tindakan untuk memulihkan.

Mahāsuka, Cullasuka, dan Kisah Nuri Lainnya

Kisah ini biasanya dirujuk sebagai Mahāsuka Jātaka, Jataka No. 429. Ada pula Cullasuka Jātaka, No. 430, yang memiliki pola kisah serupa dalam bentuk lebih pendek. Keduanya sama-sama memakai tokoh burung nuri dan pohon yang kehilangan kesuburannya.

Saat menelusuri sumber, aku juga menemukan nama Sālikedāra Jātaka, No. 484. Itu juga kisah tentang burung nuri, tetapi isinya berbeda: tentang ladang padi, burung nuri, dan bakti kepada orang tua. Jadi untuk artikel ini, rujukan utamanya lebih tepat adalah Mahāsuka Jātaka, bukan Sālikedāra.

KisahNomor JatakaInti cerita
Mahāsuka JātakaJa 429Burung nuri tidak meninggalkan pohon ara tua yang sudah kering karena ingat jasa lama.
Cullasuka JātakaJa 430Versi serupa yang lebih pendek tentang kesetiaan burung nuri pada pohon.
Sālikedāra JātakaJa 484Kisah berbeda tentang burung nuri, ladang padi, dan bakti kepada orang tua.

Dari sini kita bisa melihat satu hal yang menarik: tradisi Jataka sering memakai burung sebagai tokoh kecil yang membawa nilai besar. Kadang burung menjadi lambang bakti. Kadang lambang kebijaksanaan. Dalam Mahāsuka Jātaka, burung nuri menjadi lambang rasa terima kasih yang tidak berubah hanya karena keadaan berubah.

Kesetiaan yang Tidak Menghitung Untung

Cerita ini mudah dibuat menjadi nasihat singkat: jangan melupakan jasa. Tetapi kalau dibaca pelan-pelan, rasanya lebih dalam dari itu.

Sang nuri tidak tinggal karena pohon itu masih bisa memberi banyak. Ia tinggal justru ketika pohon itu tidak lagi memberi apa-apa. Di titik itu, kesetiaan tidak lagi bercampur dengan keuntungan.

Dalam hidup, mungkin pohon tua itu bisa berbentuk orang tua, guru, teman lama, kampung halaman, tradisi, atau siapa pun yang pernah menopang kita. Ketika mereka masih kuat, kita mudah merasa dekat. Tetapi ketika mereka rapuh, tua, pelan, atau tidak lagi menghasilkan apa yang dulu mereka hasilkan, di situlah kualitas hati kita diuji.

Tentu, kesetiaan juga perlu kebijaksanaan. Tidak semua tempat harus ditinggali jika membahayakan. Tidak semua hubungan harus dipertahankan jika melukai. Tetapi dalam kisah ini, yang disorot bukan keterikatan yang membutakan. Yang disorot adalah ingatan baik terhadap jasa, dan keengganan meninggalkan sahabat lama hanya karena ia tidak lagi berguna secara praktis.

Bunbun dan kucingnya membaca naskah lama tentang burung nuri dan pohon tua
Bunbun mencatat kisah ini sebagai pengingat tentang terima kasih, kesetiaan, dan hati yang tidak cepat berpaling.
Bunbun dan kucing

Yang Bunbun Catat

Catatan kecil: Bunbun sedang menuliskan bagian yang paling berkesan dari kisah ini. Kamu boleh berhenti sejenak dan mencatat hal yang ingin kamu ingat.

Bunbun menulis catatan bersama kucing krem oranye

Kisah burung nuri dan pohon tua membuatku berpikir tentang cara kita mengingat. Ada orang yang hanya kita ingat saat masih membutuhkan mereka. Ada tempat yang hanya kita rawat saat masih memberi keuntungan. Ada tradisi yang hanya kita banggakan saat terlihat indah, tetapi kita tinggalkan ketika tampak tua dan kurang populer.

Padahal, banyak hal baik dalam hidup kita berdiri di atas sesuatu yang dulu pernah menaungi kita. Tidak semuanya masih segar. Tidak semuanya masih kuat. Tetapi jasa tidak hilang hanya karena dahan mulai kering.

Mungkin itulah sebabnya kisah ini terasa lembut. Ia tidak memerintahkan kita untuk tinggal di semua tempat. Ia hanya bertanya: sebelum pergi, apakah kita sudah ingat dengan jujur siapa yang pernah memberi kita naungan?

Catatan Kehati-hatian

Artikel ini membaca Mahāsuka Jātaka sebagai kisah moral dan sastra Buddhis. Nilai kesetiaan di sini sebaiknya dipahami bersama kebijaksanaan. Dalam kehidupan nyata, setia bukan berarti membiarkan diri terus berada dalam keadaan yang merusak atau berbahaya. Kesetiaan yang sehat tetap perlu batas, kejernihan, dan welas asih kepada diri sendiri maupun orang lain.

Jejak bacaan: Daftar berikut membantu pembaca menelusuri sumber, terjemahan, dan bacaan lanjutan yang berkaitan dengan kisah ini.

Bunbun menunjukkan buku referensi bersama kucing krem oranye
Bunbun dan kucing menemani memilih bacaan
🐾

Apa yang sedang kamu rasakan?

Pilih perasaanmu dan temukan cerita yang mungkin bisa menemani.

Bacaan ini hadir sebagai teman dan inspirasi, bukan pengganti bantuan profesional.

Bagikan cerita ini Kalau terasa bermanfaat, kirimkan ke teman.
WA f @

Tombol ↗ membuka menu berbagi HP—Instagram, TikTok, DM, Messenger, dan aplikasi lain akan muncul bila didukung perangkat.

Share This Article