Raja yang Memberikan Matanya kepada Orang Buta

Ketika seorang peminta tidak menginginkan emas, melainkan cahaya untuk melihat dunia.

Bunbun

Ringkasan Cerita

Alur Cerita dalam 3 Adegan

Gambaran singkat sebelum mengikuti kisah selengkapnya.

Pembuka

Seorang pemohon buta meminta sesuatu yang hampir mustahil dari Raja Sivi: matanya sendiri. Sampai di mana kemurahan hati dapat diuji tanpa menjadi sekadar ucapan?

Perjalanan

Raja tidak berhenti pada janji memberi harta. Dalam kisah Jataka dan avadāna, ia bersedia menyerahkan penglihatannya ketika itulah yang diminta darinya.

Jawaban

Keteguhan Sivi menjadi ujian atas dāna dan kebenaran batin; dalam beberapa versi, penglihatannya kemudian dipulihkan melalui kekuatan kebenaran atau campur tangan ilahi. Cerita ini menggambarkan kemurahan hati bodhisattva yang ekstrem, bukan aturan literal bagi pembaca.

Daftar Isi

Pagi itu, halaman istana dipenuhi orang yang datang membawa permintaan: makanan untuk musim paceklik, kain untuk musim dingin, obat bagi keluarga yang sakit. Raja Sivi mendengarkan satu demi satu—hingga seorang lelaki tua bertongkat berdiri di hadapannya dan meminta sesuatu yang membuat seluruh balairung terdiam.

Ia tidak meminta emas. Tidak meminta tanah. Ia berkata bahwa dirinya tidak dapat melihat, sementara sang raja memiliki dua mata. Jika satu saja diberikan kepadanya, pikirnya, dunia akan kembali terbuka.

Permintaan yang Tak Pernah Dibayangkan

Raja Sivi mendengarkan permintaan seorang brahmana buta di balai sedekah istana
Permintaan yang tidak biasa membuat seluruh balairung terdiam.

Dalam Sivi Jātaka, kisah nomor 499 dalam kumpulan komentar Jataka berbahasa Pali, Raja Sivi dikenal karena kemurahan hatinya. Ia mendirikan balai sedekah di gerbang-gerbang kota dan memastikan tidak seorang pun pulang dengan tangan kosong. Namun pemberian berupa benda tidak lagi terasa cukup baginya. Ia ingin mengetahui apakah kemurahan hatinya tetap teguh ketika yang diminta adalah sesuatu yang benar-benar ia cintai.

Dewa Sakka mendengar tekad itu. Untuk mengujinya, ia menyamar sebagai seorang brahmana tua yang buta dan datang ke istana. Sang brahmana meminta satu mata. Raja Sivi justru menawarkan keduanya.

Kemurahan hati menjadi paling sulit ketika yang diberikan bukan sesuatu yang berlebih, melainkan sesuatu yang kita anggap tak tergantikan.

Istana yang Memohon agar Raja Berubah Pikiran

Raja Sivi menawarkan dua teratai bercahaya sebagai simbol pemberian kedua matanya
Dua teratai bercahaya menyampaikan keputusan sang raja tanpa adegan grafis.

Para menteri ketakutan. Rakyat menangis. Tabib kerajaan, Sīvaka, berulang kali memperingatkan rasa sakit dan akibatnya. Mereka tidak meragukan niat baik sang raja; mereka takut kerajaan kehilangan pemimpin yang dapat melihat jalan di hadapannya.

Sivi tidak menganggap tubuhnya tidak berharga. Justru karena penglihatan sangat berharga, pemberiannya memiliki makna. Dalam versi Pali, ia menegaskan bahwa “mata pengetahuan sempurna”—cita-cita kebuddhaan—lebih berharga baginya daripada mata jasmani. Cerita kuno kemudian menggambarkan penyerahan kedua mata secara fisik. Untuk pembaca masa kini, bagian itu cukup kita pahami tanpa membayangkan rincian medisnya.

Catatan Bunbun

Aku sempat bertanya: kalau semua orang memohon agar ia berhenti, apakah keputusan Raja Sivi masih disebut baik? Cerita ini memang tidak memberi jawaban sederhana. Ia membawa kemurahan hati ke ukuran legenda—begitu besar sehingga kita dipaksa memikirkan niat, tanggung jawab, dan batasnya sekaligus.

Dua Mata dan Sebuah Pernyataan Kebenaran

Raja Sivi mengucapkan pernyataan kebenaran di tepi danau saat Sakka menampakkan diri
Di tepi danau, pernyataan kebenaran menjadi titik balik kisah.

Setelah pemberian itu, Sivi tidak lagi dapat memerintah seperti sebelumnya. Ia meninggalkan istana dan tinggal di dekat sebuah danau. Ketika Sakka kembali dalam wujud aslinya, sang raja tidak meminta kekayaan atau takhta. Ia mengatakan bahwa hidup dalam kebutaan membuatnya ingin mati.

Sakka memintanya melakukan saccakiriyā, “pernyataan kebenaran”: mengucapkan dengan jujur keadaan batinnya ketika memberi. Sivi menyatakan bahwa kedatangan setiap peminta selalu membuatnya bersukacita, dan ia tidak menyesali pemberiannya. Dalam logika religius cerita, kekuatan kebenaran itu memulihkan penglihatannya—bukan sekadar mata biasa, melainkan penglihatan yang dalam versi kisah dapat menembus rintangan.

Akhir ajaib ini bukan catatan kedokteran. Ia adalah cara sastra Buddhis menggambarkan bahwa niat yang jernih dan ucapan yang benar mempunyai daya moral. Raja pulang bukan hanya dengan kemampuan melihat, tetapi dengan pemahaman baru tentang apa yang layak dilihat seorang pemimpin.

Satu Raja, Banyak Jalur Cerita

Naskah kisah Buddhis bergerak dari India melalui Asia Tengah menuju sebuah biara Tiongkok
Cerita bergerak bersama para penutur, peziarah, dan naskah yang melintasi Asia.

Kisah pemberian mata tidak hidup dalam satu buku saja. Proyek Jataka Universitas Edinburgh mengelompokkannya sebagai satu rumpun cerita yang mencakup Sivirājacariyā dalam Cariyāpiṭaka 8, Śibi-jātaka dalam Jātakamālā 2, Śibi dalam Avadānaśataka 34, dan Sivi Jātaka 499. Tokoh, peminta, serta cara pemulihan mata berubah dari satu versi ke versi lain.

Dalam Jātakamālā karya Āryaśūra, misalnya, gaya ceritanya lebih puitis dan argumentatif. Dalam Avadānaśataka, episode pemberian mata menjadi bagian dari rangkaian perbuatan ekstrem Raja Śibi. Terjemahan akademis dekade keempat Avadānaśataka menunjukkan bagaimana Śakra menguji keteguhan calon Buddha dan kemudian memuji tekadnya.

Infografis jalur India, Pali, Sanskerta, Asia Tengah, dan Tiongkok serta perbedaan motif mata dan merpati
Peta konseptual rumpun teks dan dua motif Śibi yang sering tertukar.

Peta Perjalanan Cerita

  1. India awal: motif Raja Śibi/Sivi dan pemberian tubuh berkembang dalam berbagai tradisi Buddhis.
  2. Tradisi Pali: Cariyāpiṭaka 8 dan Sivi Jātaka 499 menonjolkan kesempurnaan kemurahan hati serta pernyataan kebenaran.
  3. Sastra Sanskerta: Jātakamālā 2 dan Avadānaśataka 34 mengolah motif yang berkerabat dengan rincian berbeda.
  4. Asia Tengah–Tiongkok: kisah pemberian mata dipelihara dalam kumpulan cerita Buddhis berbahasa Tionghoa, termasuk versi Raja Kuàimù.
  5. Pembacaan modern: cerita dibaca sebagai gambaran ekstrem tentang dāna, bukan petunjuk tindakan medis.

Raja Kuàimù dalam Kanon Tionghoa

Dalam kanon Buddhis Tionghoa terdapat versi yang tidak sekadar menerjemahkan nama Sivi. Xianyu jing atau 賢愚經 (T202) memuat kisah Kuàimù Wáng yǎnshī yuán 快目王眼施緣—“Kisah Raja Kuàimù Memberikan Matanya.” Teks ini disusun ke dalam bahasa Tionghoa pada abad kelima dari cerita-cerita yang didengar para peziarah di Asia Tengah, sehingga ia menjadi saksi penting perjalanan kisah Buddhis melintasi bahasa dan wilayah.

Kuàimù berarti kira-kira “Mata Tajam” atau “Mata Cemerlang.” Dalam cerita, kemampuan melihat sang raja luar biasa. Seorang brahmana buta meminta mata, dan raja memberikannya dengan sumpah untuk mencapai kebuddhaan. Si peminta memperoleh penglihatan; keteguhan raja kemudian diuji dengan pertanyaan apakah rasa sakit menimbulkan penyesalan.

Versi ini jelas memiliki paralel dengan rumpun Śibi/Sivi, tetapi tidak bijaksana menyebutnya salinan langsung dari teks Pali yang kita kenal sekarang. Nama raja, latar naratif, dan sejumlah adegan berbeda. Kemungkinan besar mereka tumbuh dari jaringan cerita India dan Asia Tengah yang saling berkerabat sebelum dibakukan dalam koleksi masing-masing.

Bukan Kisah Merpati dan Elang

Nama Śibi juga terkenal melalui cerita lain: seekor merpati meminta perlindungan dari elang, lalu sang raja menawarkan daging tubuhnya sebagai pengganti. Kedua cerita sering digambarkan berdekatan dalam seni Buddhis dan sama-sama berbicara tentang pemberian tubuh. Namun alurnya berbeda. Yang satu berpusat pada perlindungan makhluk lemah; yang lain pada pemberian mata kepada peminta.

Pemisahan ini penting karena seni, teks, dan ringkasan modern kadang mencampur keduanya. Bahkan dalam tradisi kanon Tionghoa terdapat kisah yang menggabungkan Śibi, mata, dan seekor burung pemangsa. Kesamaan tokoh tidak berarti semua versi berasal dari satu naskah yang sama.

Bunbun dan kucing

Yang Bunbun Catat

Bunbun memegang lentera bercahaya ditemani kucing krem oranye di taman teratai

Kisah ini bukan ajakan untuk menyakiti diri.
Ia adalah lentera yang membantu kita melihat orang yang terlewat, serta menimbang kemurahan hati bersama kebijaksanaan dan keselamatan.

Bunbun dan kucing Exotic Shorthair membaca di depan lukisan Raja Sivi yang menawarkan teratai bercahaya
Bunbun memikirkan bagaimana kemurahan hati juga mengajarkan kita untuk melihat.

Aku tidak membaca kisah ini sebagai perintah untuk menyakiti diri. Aku membacanya sebagai kaca pembesar. Cerita memperbesar kemurahan hati sampai ukuran yang mustahil, lalu bertanya: ketika kita mengatakan ingin membantu, bagian mana yang sungguh rela kita lepaskan—waktu, kenyamanan, perhatian, atau keinginan untuk selalu menang sendiri?

Raja Sivi memberikan penglihatan, tetapi cerita justru membuat pembacanya belajar melihat. Melihat orang yang biasanya terlewat. Melihat perbedaan antara memberi karena ingin dipuji dan memberi karena penderitaan orang lain benar-benar menyentuh kita. Juga melihat bahwa dalam kehidupan nyata, kebaikan perlu berjalan bersama kebijaksanaan dan keselamatan.

Catatan Kehati-hatian

Pemberian anggota tubuh dalam kisah Jataka adalah gambaran religius tentang praktik bodhisattva dalam kehidupan lampau. Ia bukan anjuran untuk melukai diri atau melakukan donor organ di luar prosedur medis dan hukum. Donasi medis modern harus selalu berlangsung secara sukarela, aman, etis, dan ditangani tenaga kesehatan yang berwenang.

Bunbun dan kucing menemani memilih bacaan
🐾

Apa yang sedang kamu rasakan?

Pilih perasaanmu dan temukan cerita yang mungkin bisa menemani.

Bacaan ini hadir sebagai teman dan inspirasi, bukan pengganti bantuan profesional.

Bagikan cerita ini Kalau terasa bermanfaat, kirimkan ke teman.
WA f @

Tombol ↗ membuka menu berbagi HP—Instagram, TikTok, DM, Messenger, dan aplikasi lain akan muncul bila didukung perangkat.

Share This Article