Orang yang Mengaku Bersaudara Hanya Ketika Ada Keuntungan

Ia memanggil orang kaya itu “saudara” saat membutuhkan uang. Ketika tiba waktunya ikut menanggung kewajiban, tiba-tiba ia berkata: “Dia bukan saudaraku.”

Bunbun
Daftar Isi

[foxiz_toc]

Halo, aku Bunbun.

Ada hubungan yang terasa sangat dekat ketika semuanya menyenangkan. Kita dipanggil teman, saudara, bahkan keluarga. Tetapi begitu hubungan itu meminta tanggung jawab, kedekatan tadi mendadak menghilang.

Ternyata perilaku semacam ini sudah disindir lebih dari seribu tahun lalu dalam Baiyu Jing (百喻經), kumpulan perumpamaan Buddhis yang terkenal karena memakai cerita sederhana—kadang lucu, kadang absurd—untuk menunjukkan kebodohan manusia.

Kedekatan yang hanya muncul ketika ada keuntungan mungkin bukan kedekatan. Bisa jadi kita hanya sedang membutuhkan sesuatu.

Seorang Kaya yang Dikagumi Banyak Orang

Perumpamaan ini berjudul Ren Ren Wei Xiong Yu (認人為兄喻), “Perumpamaan Mengakui Seseorang sebagai Saudara”. Dalam susunan Baiyu Jing, kisah ini adalah perumpamaan nomor tujuh.

Teks membuka cerita dengan seorang laki-laki yang rupawan, cerdas, dan sangat kaya. Banyak orang memujinya.

Lalu datang seorang yang oleh teks disebut sebagai orang bodoh. Melihat kekayaan laki-laki itu, ia segera berkata, “Dia saudaraku.”

Seorang pria mendekati orang kaya dan mengaku sebagai saudara ketika melihat keuntungan

Mengapa Tiba-Tiba Menjadi Saudara?

Alasannya ternyata sederhana: karena orang kaya itu memiliki banyak uang. Ketika si bodoh membutuhkan sesuatu, ia berharap bisa memakai kekayaan “saudaranya”.

Selama hubungan itu memberikan keuntungan, ia dengan senang hati mengakuinya sebagai saudara.

Orang yang mengaku saudara menerima bantuan dan keuntungan dari orang kaya

Begitu Ada Kewajiban, “Dia Bukan Saudaraku”

Tetapi keadaan berubah ketika muncul urusan utang atau kewajiban yang harus dikembalikan. Mendadak orang yang tadi begitu dekat itu berkata bahwa si kaya bukan saudaranya.

Orang kaya meminta bantuan tetapi orang yang sebelumnya mengaku saudara mulai menolak

Orang-orang di sekitarnya tentu heran. Ketika membutuhkan harta, ia menyebut orang itu saudara. Ketika hubungan tersebut membawa beban, ia menyangkalnya.

Aku mengakuinya sebagai saudara karena ingin memperoleh hartanya. Sebenarnya dia memang bukan saudaraku.

Pengakuannya begitu terang-terangan sehingga, menurut teks, orang-orang yang mendengarnya tertawa.

Pria menyangkal persaudaraan ketika hubungan itu membawa kewajiban

Apa yang Sebenarnya Disindir Baiyu Jing?

Kalau berhenti pada ceritanya saja, kita mudah membacanya sebagai sindiran terhadap teman yang hanya datang ketika membutuhkan uang. Tetapi penjelasan asli Baiyu Jing lebih khusus.

Catatan penting: teks asli mengarahkan perumpamaan ini kepada orang yang mengambil ajaran baik Buddha untuk kepentingan atau keuntungan dirinya, tetapi ketika diminta benar-benar mempraktikkannya, ia tidak mau. Jadi tema “persaudaraan karena keuntungan” adalah cerita perumpamaannya; sasaran religiusnya adalah mengambil ajaran tanpa menjalankannya.

Mengambil Kata-Katanya, Meninggalkan Praktiknya

Inilah bagian yang menurutku membuat cerita kecil ini jauh lebih menarik.

Kita bisa menyukai kata-kata tentang welas asih tanpa mencoba menjadi lebih welas asih. Kita bisa mengutip kesabaran ketika menasihati orang lain, tetapi melupakannya ketika diri sendiri tersinggung. Kita bisa menyukai kebijaksanaan selama kebijaksanaan itu tidak meminta kita berubah.

Ajaran yang hanya kita akui ketika menguntungkan kita belum tentu sudah menjadi bagian dari hidup kita.

Hubungan Juga Terlihat Saat Tidak Ada Keuntungan

Sebagai pembacaan untuk kehidupan sehari-hari, perumpamaan ini juga mengingatkanku pada hubungan manusia. Tidak semua hubungan harus selalu seimbang setiap saat. Ada masa seseorang membutuhkan lebih banyak bantuan daripada yang lain.

Tetapi ada perbedaan antara saling menolong dan menjadikan seseorang sebagai “saudara” hanya selama ia berguna.

Sering kali kualitas sebuah hubungan justru terlihat ketika tidak ada sesuatu yang bisa kita ambil darinya.


Bunbun dan kucing

Catatan Bunbun

Bunbun dan kucing membantu seseorang tanpa mengharapkan keuntungan atau imbalan

Aku tersenyum membaca orang dalam cerita ini. Bukan karena tingkahnya terasa asing, justru karena logikanya kadang masih muncul dalam bentuk yang lebih halus sampai sekarang.

Kita mudah mengaku dekat dengan sesuatu ketika ia memberi kita kenyamanan, pujian, keuntungan, atau jawaban yang kita sukai.

Tetapi mungkin pertanyaan yang lebih penting adalah: ketika hubungan, nilai, atau ajaran itu meminta sesuatu dari kita—kesetiaan, tanggung jawab, kesabaran, latihan—apakah kita masih mengakuinya?

Saudara bukan hanya orang yang kita cari ketika membutuhkan sesuatu.

Referensi & Bacaan Lanjutan

  • Baiyu Jing 百喻經, juan 1, no. 7, 認人為兄喻, Taishō Tripiṭaka T0209, vol. 4.
  • CBETA electronic edition berdasarkan Taishō Shinshū Daizōkyō, no. 209.
  • Teks mencantumkan Saṅghasena (僧伽斯那) sebagai penyusun dan Guṇavṛddhi / 求那毘地 sebagai penerjemah Tionghoa pada masa Qi Selatan.

Catatan editorial: pembahasan tentang relasi pertemanan dan persaudaraan masa kini adalah penerapan modern. Penjelasan eksplisit dalam teks klasik diarahkan pada orang yang mengambil perkataan Buddha demi keuntungan tetapi tidak bersedia mempraktikkannya.

Bunbun dan kucing

Yang Bunbun Catat

Jangan hanya bertanya siapa yang berguna ketika kita membutuhkan sesuatu.

Tanyakan juga: ketika tidak ada keuntungan yang bisa diambil, apakah kita masih memilih untuk tetap dekat?

Bunbun dan kucing menemani memilih bacaan
🐾

Apa yang sedang kamu rasakan?

Pilih perasaanmu dan temukan cerita yang mungkin bisa menemani.

Bacaan ini hadir sebagai teman dan inspirasi, bukan pengganti bantuan profesional.

Bagikan cerita ini Kalau terasa bermanfaat, kirimkan ke teman.
WA f @

Tombol ↗ membuka menu berbagi HP—Instagram, TikTok, DM, Messenger, dan aplikasi lain akan muncul bila didukung perangkat.

Share This Article