Ketika Seorang Ibu dari Kehidupan Lampau Datang Meminta Pertolongan kepada Sāriputta

Sebuah kisah Petavatthu tentang akibat kekikiran, belas kasih, dan kebajikan yang dipersembahkan bagi mereka yang telah pergi.

Bunbun

Ringkasan Cerita

Alur Cerita dalam 3 Adegan

Gambaran singkat sebelum mengikuti kisah selengkapnya.

Pembuka

Seorang peta datang kepada Sāriputta dan mengaku pernah menjadi ibunya dalam kehidupan lampau. Apa yang bisa dilakukan untuk seseorang yang hubungan dengannya bahkan melampaui satu kehidupan?

Perjalanan

Ia menceritakan penderitaannya dan meminta pertolongan. Sāriputta bersama para sahabat monastiknya melakukan pemberian kepada Saṅgha dan mengarahkan jasa kebajikan itu kepadanya.

Jawaban

Dalam kisah, keadaan sang peta berubah setelah kebajikan tersebut didedikasikan. Cerita ini menjadi salah satu gambaran klasik tentang mengubah ingatan dan hubungan dengan yang telah meninggal menjadi tindakan baik bagi yang hidup.

Daftar Isi

Halo, aku Bunbun.

Ada kisah dalam Petavatthu yang terasa sangat dekat dengan kehidupan keluarga. Bukan karena tokohnya masih hidup, melainkan karena seorang perempuan yang telah lama meninggal datang kepada Sāriputta dan mengatakan sesuatu yang mengejutkan: dalam kehidupan lampau, ia pernah menjadi ibunya.

Perempuan yang Datang dalam Keadaan Menyedihkan

Kisah ini dikenal sebagai Sāriputtattheramātupetivatthu, kisah kedua dalam Ubbarīvagga. Syair kanonik Petavatthu langsung membawa kita pada pertemuan Sāriputta dengan seorang peta perempuan.

Ilustrasi kisah kehidupan lampau dalam Sāriputtattheramātupetivatthu

Keadaannya mengenaskan. Tubuhnya kurus, urat-uratnya tampak, dan ia tidak memiliki pakaian yang layak. Ia menjelaskan bahwa dirinya hidup dalam alam peta, didera lapar dan haus.

Ketika Sāriputta bertanya siapa dirinya, perempuan itu menjawab bahwa dahulu ia pernah menjadi ibunya—bukan ibu Sāriputta dalam kehidupan terakhir, melainkan seorang ibu dari kehidupan lampau.

Ia datang bukan membawa harta atau meminta dikenang dengan upacara megah. Ia datang karena menderita dan berharap sebuah kebajikan dapat dilakukan untuknya.

Catatan Bunbun atas Sāriputtattheramātupetivatthu

Apa yang Membawanya ke Keadaan Itu?

Di sinilah kita perlu membedakan dua lapisan cerita. Syair Petavatthu menggambarkan penderitaan sang peta dan permintaannya kepada Sāriputta. Latar belakang yang lebih panjang dijelaskan oleh komentar Petavatthu.

Menurut komentar, pada salah satu kehidupan lampau perempuan itu hidup di rumah keluarga Sāriputta. Ketika makanan, minuman, pakaian, dan kebutuhan lain telah disediakan agar dapat diberikan kepada para petapa dan orang yang membutuhkan, ia justru tidak menjalankan kemurahan hati itu sebagaimana semestinya. Kebiasaan kikir dan perilaku buruk terhadap mereka yang datang membutuhkan kemudian dikaitkan oleh komentar dengan kelahirannya sebagai peta.

Cerita itu tidak sedang menggambarkan satu kesalahan kecil yang kebetulan dilakukan sekali. Yang terasa lebih kuat justru sebuah kebiasaan batin: ketika kesempatan untuk memberi terus datang, hati terus memilih menutup diri.

“Aku Pernah Menjadi Ibumu”

Di hadapan Sāriputta, sang peta menceritakan penderitaannya. Ia tidak mampu memperoleh makanan dan minuman sebagaimana manusia biasa. Dalam gambaran keras Petavatthu, kehidupan peta ditandai oleh rasa lapar, haus, dan keadaan yang menjijikkan.

Kemudian ia meminta pertolongan. Ia memohon agar Sāriputta memberikan sesuatu dan mempersembahkan buah kebajikan itu kepadanya, dengan harapan penderitaannya dapat berakhir.

Yang menarik bagiku justru reaksi Sāriputta. Tidak ada kemarahan karena perempuan itu dahulu kikir. Tidak ada kalimat, “Itulah akibat perbuatanmu.” Yang dilakukan adalah mencari cara untuk membantu.

Sāriputta Tidak Menolong Sendirian

Kisah kemudian melibatkan Mahāmoggallāna, Anuruddha, dan Kappina. Bersama para sesepuh itu, Sāriputta melakukan tindakan kebajikan bagi sang peta.

Dalam penjelasan komentar, Raja Bimbisāra juga berperan menyediakan apa yang diperlukan. Tempat tinggal, makanan, minuman, dan berbagai kebutuhan diberikan kepada Saṅgha. Kebajikan dari pemberian tersebut kemudian dipersembahkan bagi perempuan yang sedang menderita itu.

Di sinilah kisah berubah. Sang peta yang sebelumnya digambarkan lapar, haus, kurus, dan tanpa perlindungan memperoleh manfaat dari kebajikan yang dipersembahkan kepadanya. Keadaannya menjadi jauh lebih baik dan penuh kemakmuran.

Ia kemudian datang kembali dalam keadaan yang sangat berbeda. Mahāmoggallāna menanyakan sebab kemakmuran itu, dan perubahan tersebut dikaitkan dengan kebajikan yang telah dilakukan dan dipersembahkan kepadanya.

Bukan Cerita tentang Menghukum Orang yang Kikir

Mudah sekali membaca Petavatthu hanya sebagai cerita hukuman: orang kikir mati, lalu menderita. Tetapi kalau berhenti di sana, rasanya kita kehilangan bagian yang paling manusiawi dari kisah ini.

Sāriputta tidak menggunakan masa lalu perempuan itu untuk menghakiminya. Ketika ada makhluk yang sedang menderita dan masih dapat dibantu, ia membantu.

Dan mungkin di situlah kisah ini mulai berbicara kepada kita. Kita tidak harus menunggu menjadi kaya untuk belajar memberi. Kemurahan hati tumbuh melalui kebiasaan-kebiasaan kecil: berbagi makanan, memberi waktu, membantu orang yang sedang kesulitan, atau sekadar tidak mempersulit orang yang membutuhkan pertolongan.

Tentang Mereka yang Telah Pergi

Petavatthu juga menyimpan pandangan Buddhis awal tentang melakukan kebajikan sambil mengingat mereka yang telah meninggal. Dalam kisah ini, pemberian dilakukan kepada Saṅgha dan kebajikannya dipersembahkan kepada peta yang dapat menerimanya.

Kita tidak perlu mengubahnya menjadi transaksi seolah-olah jasa adalah benda yang dikirim dari satu orang kepada orang lain. Yang ditonjolkan cerita adalah perbuatan baik, kondisi penerima, dan sukacita atau keterhubungan terhadap kebajikan tersebut.

Bunbun dan kucing

Catatan Bunbun

Kadang kita tidak perlu menunggu memiliki banyak untuk mulai memberi. Kebaikan bisa dimulai dari sesuatu yang kecil.

Catatan Bunbun

Aku suka satu hal dari cerita ini: orang yang dahulu tidak memberi akhirnya ditolong melalui tindakan memberi.

Ada semacam lingkaran yang akhirnya diputus. Kekikiran membawa penderitaan; kemurahan hati membuka jalan keluar.

Mungkin manfaat kisah ini bukan membuat kita takut akan menjadi peta. Mungkin cukup membuat kita bertanya ketika kesempatan kecil untuk berbuat baik muncul hari ini: apakah aku akan membuka tangan, atau kembali menutupnya?

Tentang Sumber Kisah

Artikel ini berdasarkan Sāriputtattheramātupetivatthu (Petavatthu, Ubbarīvagga 2). Bagian dialog dan gambaran penderitaan peta berasal dari syair Petavatthu; latar naratif yang lebih panjang serta sejumlah rincian mengenai kehidupan lampau dan proses pemberian dijelaskan dalam Petavatthu-aṭṭhakathā (komentar Petavatthu). Pemisahan ini penting agar cerita dari komentar tidak disajikan seolah-olah seluruhnya terdapat dalam syair kanonik.

Referensi & Bacaan Lanjutan

  • Petavatthu, Ubbarīvagga 2: Sāriputtattheramātupetivatthu.
  • Petavatthu-aṭṭhakathā / Paramatthadīpanī, komentar untuk Sāriputtattheramātupetivatthu.
  • Vipassana Research Institute, edisi digital Pāḷi Tipiṭaka dan Petavatthu-aṭṭhakathā.
Bunbun dan kucing menemani memilih bacaan
🐾

Apa yang sedang kamu rasakan?

Pilih perasaanmu dan temukan cerita yang mungkin bisa menemani.

Bacaan ini hadir sebagai teman dan inspirasi, bukan pengganti bantuan profesional.

Bagikan cerita ini Kalau terasa bermanfaat, kirimkan ke teman.
WA f @

Tombol ↗ membuka menu berbagi HP—Instagram, TikTok, DM, Messenger, dan aplikasi lain akan muncul bila didukung perangkat.

Share This Article